MENTERI Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan (LBP) dan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dilaporkan tengah masuk dalam zona degradasi untuk reshuffle kabinet Presiden Joko Widodo (Jokowi).
Direktur Center of Economics and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira mengungkap ada beberapa sinyal dari Jokowi untuk melakukan reshuffle terhadap sejumlah menteri dalam waktu dekat.
"Sinyal itu tegas," kata Bhima Yudhistira.
Dia mengungkap memang sudah saatnya merombak susunan Kabinet Indonesia Maju agar kinerja tidak dicemari dengan kepentingan politik yang kian meluas jelang Pilpres 2024.
Dia mengungkap ada sejumlah nama yang pantas diganti dan tengah berada dalam zona degradasi, salah satunya adalah Menteri Perdagangan (Mendag) Muhammad Lutfi.
Kemudian dia juga mengungkap nama Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita.
Dia melihat bahwa kedua menteri ini memiliki rapor merah dalam kinerjanya, Mendag dianggap gagal dalam upaya stabilitas harga pangan, seperti minyak goreng.
Sementara Menperin menurut dia memiliki persoalan serius setelah geliat impor yang justru tidak sesuai dengan keinginan Presiden Jokowi dalam kemandirian ekonomi nasional.
"Jadi ini jadi salah satu sinyal bahwa masalah ketergantungan impor tidak bisa disepelekan, jadi dua yang kena sasaran tembak, Menperin dan Mendag," kata Bhima.
Kemudian Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo menurut dia juga berada dalam zona degradasiuntuk di-reshuffle.
"Penyebabnya adalah ketergantungan impor yang semakin tinggi pada kebutuhan pangan. Jadi ada indikasi bahwa pembangunan pertanian dalam negeri tidak optimal," kata Bhima.
Dalam kinerjanya, sejumlah pengamat menganggap Syahrul Yasin Limpo telah lalai dalam menjaga amanah sebagai Mentan yang harusnya memiliki perhatian besar pada petani.
Begitu juga dengan Menteri BUMN Erick Thohir yang dinilainya tak lagi fokus menjalankan bisnis yang sehat pada perusahaan plat merah dan mulai mengembangkan sayapnya pada agenda politik 2024 mendatang.
Langkah melepas saham sejumlah BUMN ke publik dianggap pengamat menjadi masalah besar bagi Erick Tohir dan bisa membahayakan stabilitas ekonomi dan politik tanah air.
Upaya tersebut katanya juga dianggap sebagai manuver politik Erick yang kian bernafsu untuk maju dalam pencalonan presiden pada 2024 mendatang.
Tidak kalah dengan Erick ada nama Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto yang semakin hari kian gencar menyuarakan keinginan untuk maju pada Pilpres mendatang.
Menurutnya, kinerja Airlangga tak terlihat selama menjabat sebagai Menko Perekonomian dan lebih banyak terafiliasi pada kepentingan politik.
"Jadi jika ada menteri yang punya berambisi maju jadi capres, hal itu bisa mengganggu kinerja ekonomi, karena menjadi terpecah," kata dia.
Menurutnya, lebih baik sebelum reshuffle, mereka mengundurkan diri sehingga tidak menganggu kinerja perekonomian negara.
"Karena ekonomi pasca pandemi itu lebih kompleks, ada inflasi, kemudian konflik Rusia-Ukraina, suku bunga, jadi tekanan terhadap ekonomi tahun ini berat. Jadi beberapa pos tadi bisa saja diganti," lanjut kata dia.
LBP Masuk Degradasi
Selain sejumlah nama tersebut, juga terdapat nama Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan (LBP).
Seperti diketahui, LBP merupakan menteri paling mentereng dalam Kabinet Indonesia Maju, urusannya bisa melampui segala hal.
Manuver politik untuk memperpanjang masa jabatan presiden secara tidak sadar telah menyudutkan martabat bangsa.
Akibatnya, sejumlah jenderal purnawirawan yang tadinya mendukung LBP dilaporkan kini mulai melangkahkan kaki keluar dari struktur politik yang dibangunnya.
Selain isu perpanjangan masa jabatan presiden, LBP juga tersudutkan dengan laporan yang mengungkap keterlibatannya dalam proyek PCR dimasa pandemi.
Teranyar adalah pernyataan Haris Azhar dan Fatia Maulidiyanti yang mengungkap adanya dugaan keterlibatan LBP dengan bisnis tambang di Blok Wabu.
Luhut yang tidak terima dengan tuduhan itu lantas melaporkan Haris Azhar dan Fatia ke Polda Metro Jaya atas kasus dugaan fitnah dan pencemaran nama baik.
Jika benar sejumlah isu tersebut menyeret Luhut dalam zona degradasi, maka siapa orang yang pantas menggantikannya dalam dominasi Kabunet Indonesia Maju?
Sejumlah pengamat menganggap tokoh militer yang mampu mengimbangi LBP dalam dominasi Kabinet Indonesia Maju adalah Mantan Kepala Badan Intelijen (BIN) AM Hendroproyono.
'The master of intelligence' Hendropriyono adalah senior Luhut dalam militer yang memiliki pengalaman politik setara atau bahkan lebih besar dibanding LBP.
Oleh Fazar Muhardi



Popularitas Film Adaptasi Game dan Komik Meningkat, Penonton Global Semakin Antusias
Riaubook.com-Industri film global terus mengalami perkembangan yang signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Salah satu tren yang semakin menonjol adalah meningkatnya…