PETA INDONESIA - Setelah sebelummya mengalami kenaikan signifikan terhadap harga ecer minyak goreng, pemerintah akhirnya melalui Kementerian Perdagangan menerbitkan PerMenDag Nomor 06 tahun 2022 terkait penetapan harga eceran minyak goreng.
Peraturan Menteri Perdagangan itu menetapkan harga eceran tertinggi (HET) untuk minyak goreng curah sebesar Rp 11.500/liter,dan untuk minyak goreng kemasan sederhana sebesar Rp 13.500/liter.
Sementara untuk minyak goreng dengan kemasan premium ditetapkan HET sebesar Rp 14.000/liter.
Sejak terbitnya PerMenDag tersebut, masalah baru kemudian muncul, keberadaan minyak goreng di sejumlah toko dan pusat perbelanjaan malah sulit ditemukan.
Nelson, seorang pengusaha distributor minyak goreng di Pekanbaru, Riau, Minggu (14/03/2022) mengungkap, sejak terbitnya PerMenDag Nomor 06 tahun 2022, pihanya memilih untuk menghentikan usahanya sementara.
"Peraturan tersebut salah kaprah karena harga di produsen tidak seimbang dengan biaya angkut yang dikeluarkan. Hal itu yang menyebabkan jaringan pemasarannya menjadi terbatas," kata Nelson.
Sebagai contoh, lanjut dia, harga dasar oleh produsen untuk minyak goreng curah adalah Rp10.000 per liter, itu diluar biaya angkut hingga sampai ke pengecer.
Jika produsen berada di wilayah Kota Dumai, demikian Nelson, maka dipastikan untuk di wilayah produksi (Dumai) tidak akan terjadi kelangkaan mengingat ada efisiensi untuk biaya angkut sehingga HET Rp11.500 masih memiliki selisih keuntungan walau tidak begitu besar.
Sementara untuk wilayah di luar Dumai, lanjut dia, masih akan terbebani biaya angkut tergantung dengan jarak tempuh ke wilayah tertentu.
"Semisal ke Pekanbaru, jaraknya dari Dumai sekitar 90 kilometer, dengan catatan lewat jalur tol. Maka perhitungan biaya angkut per liternya bisa mencapai Rp400 sampai Rp500 per liter. Dan itu belum termasuk biaya bongkar muat," kata dia.
Jika dikalkulasikan, kata Nelson, maka biaya angkut dengan biaya bongkar muat dari Dumai hingga sampai ke Pekanbaru totalnya bisa mencapai Rp900 hingga Rp1.000 per liter.
Dengan demikian, lanjut dia, artinya distrubutor hanya mendapatkan keuntungan sekitar Rp500 per liter diambil dari selisih harga produsen.
Bagaimana dengan daerah-daerah lain yang jarak tempuhnya lebih jauh dari Pekanbaru? Semisal Dumai - Rengat yang jaraknya mencapai 361 kilometer, atau Dumai - Tembilahan yang jaraknya sekitar 453 kilometer.
Menurut Nelson hal itu tidak lagi mendatangkan keuntungan baik bagi distributor maupun pengecer, keduanya malah akan dirugikan.
Dengan kondisi demikian, lanjut Nelson, tidak sedikit kemudian distributor memilih untuk menghentikan kegiatan distribusi minyak goreng karena margin yang didapatkan tidak sebanding dengan resiko yang besar.
Dari penelusuran PETA, resiko besar yang dimaksud Nelson adalah adanya sanksi tegas yang dibunyikan dalam butir pasal 6 PerMenDag Nomor 06 Tahun 2022.
Pada pasal 6 PerMenDag tersebut poin 1 menjelaskan, bagi pengecer yang melanggar ketentuan (pasal 4) atau menjual harga diatas HET yang telah ditetapkan, maka akan dikenakan sanksi administratif.
Dalam poin kedua juga disebutkan, bahwa sanksi administratif yang dimaksud mulai dari peringatan tertulis, penghentian kegiatan sementara, dan bahkan hingga pencabutan izin usaha.
"Terlalu besar resiko yang harus dihadapi," kata dia.
Ketua Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo)Gulat Manurung mengungkap, fenomena kelangkaan minyak goreng harus segera dicarikan formulasinya agar tidak berkelanjutan.
Salah satunya menurut dia, yakni dengan kebijakan subsidi pada biaya angkut minyak goreng sehingga penerapan HET tidak berbenturan dengan pelaku bisnis.
"Saya pikir perlu dipertimbangkan adanya subsidi pada biaya angkut minyak goreng hingga sampai ke tingkat pengecer," kata Gulat.
Menurut dia, langkah subsidi biaya angkut itu adalah formula efektif untuk mengatasi fenomena kelangkaan minyak goreng yang saat ini terjadi.
"Jadi bukan karena yang lain, persoalan utamanya memang ada pada selisih harga yang tidak lagi menguntungkan bagi distributor dan pengecer," katanya. (rls)
PETA-INDONESIA adalah organisasi pers yang fokus menyorot sosial petani dan industri pertanian dan perkebunan di Tanah Air.



Popularitas Film Adaptasi Game dan Komik Meningkat, Penonton Global Semakin Antusias
Riaubook.com-Industri film global terus mengalami perkembangan yang signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Salah satu tren yang semakin menonjol adalah meningkatnya…