ARENA politik jelang Pilpres 2024 telah dibentang. Masing-masing joki menunggangi kuda pacu dan terus melatih ketangkasan mengintari arena sambil merebut simpatik, tak berarti.
Fenomena politik yang biasa. Ketika perebutan piala kekuasaan tidak lagi melibatkan sang petahana, maka arena kuda pacu diisi oleh joki-joki baru.
Joko Widodo (Jokowi) telah memimpin bangsa selama dua periode, dan mengharuskannya 'legowo' untuk menyerahkan jabatan itu kepada pemimpin baru yang akan ditentukan 2024 mendatang.
Situasi ini persis ketika Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) melepas jabatannya lebih delapan tahun lalu. Di akhir-akhir masa jabatan SBY, suhu politik mulai panas. Saat itu, bermunculan sejumlah tokoh politik, mereka layaknya joki yang memacu kencang kuda-kudanya.
Sebut saja Prabowo Subianto. Ketua Umum Partai Gerindra ini menjadi kuda hitam pada awal-awal pertarungan. Namanya melejit diberbagai lembaga survei mengalahkan Megawati Soekarnoputri yang merupakan Capresnya Prabowo di 2010.
Saat itu Prabowo bahkan menjadi satu-satunya joki dari tokoh militer yang berlari kencang, mengalahkan tokoh militer lainnya seperti Wiranto dan Pramono Edhie.
Namun itu tak berarti. Sosok baru yang dilahirkan PDIP muncul diakhir-akhir waktu jelang tahapan Pilpres 2014.
Jokowi yang sebelumnya juga didukung Partai Gerindra menjadi joki untuk merebut jabatan Gubernur DKI justru melesat melampaui Prabowo.
Jokowi layaknya penunggang kuda putih yang mencuri perhatian banyak partai politik. Dia berlari kencang, melesat tak terduga.
Berbagai lembaga survei menempatkan Jokowi sebagai capres dengan elektabilitas tertinggi jauh melampaui Prabowo, penunggang kuda hitam.
Jokowi meraih lebih 42 persen dukungan, sementara Prabowo di tempat kedua dengan hanya meraih kurang dari 20 persen dukungan.
Dalam arena pacuan, dengan cerdik Jokowi menggandeng mantan Wapres Jusuf Kalla (JK) yang juga memiliki nilai elektabilitas di atas 8 persen. Sementara Prabowo justru menggandeng Ketua Umum PAN Hatta Rajasa yang sama sekali tidak diperhitungkan ketika itu.
Polarisasi pun terbentuk dengan kuat. Politik identitas tak terhindarkan sebagai cara menghancurkan elektabilitas Jokowi-JK yang jauh di atas. Namun itu pun tak berarti.
Pilpres 2014 akhirnya dimenangi oleh pasanganJokowi-JKyang memperoleh suara sebesar 53,15 persen mengalahkan pasangan Prabowo-Hattayang meraih 46,85 persen.
Kemenangan Jokowi-JK sangat berlandaskan dengan kekuatan elektabilitas sosok yang mencapai lebih 45 persen. Sisanya partai koalisi PDI-P, PKB, NasDem, Hanura, dan PKP Indonesia hanya menyumbang 9 persen suara.
Sementara pasangan Prabowo-Hatta jika digabungkan hanya meraih 22 persen dukungan sosok. Koalisi partai yang begitu besar dari Gerindra, PAN, PPP, PKS, PBB, dan Partai Golkar belum mampu merebut kemenangan.
Pilpres 2024
Kondisi nyaris sama juga sedang terjadi saat ini jelang habisnya masa jabatan kedua Presiden Jokowi. Namun kali ini, terlihat semakin banyak joki kuda hitam yang mulai berpacu merebut simpatik masyatakat.
Pola yang dibentuk dari masing-masing kandidat nyaris sama, namun lebih banyak warna. Berbagai unsur ada pada pertarungan Pilpres kali ini, mulai dari tokoh politik sipil, pengusaha, hingga militer.
Dua tokoh sipil yang saat ini sedang beradu ketangkasan adalah Anies Baswedan dan Ganjar Pranowo. Keduanya memiliki dasar-dasar yang sama sebelum akhirnya meraih kekuatan dukungan akar rumpun.
Berbagai lembaga survei menempatkan Gubernur DKI dan Gubernur Jawa Tengah itu masuk dalam tiga besar Capres potensial 2024 bersama tokoh lama Prabowo Subianto. Sayangnya masing-masing masih memerima dukungan di bawah 20 persen. Belum ada yang mencapai lebih 40 persen.
Selain tiga nama itu, terdapat juga sejumlah tokoh muda yang tidak ingin ketinggalan. Mereka adalah Ketum Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), Menteri BUMN Erick Tohir, Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil serta Ketua DPR RI Puan Maharani.
Masing-masing tokoh muda juga masih meraih persantase elektabilitas yang sangat minim, di bawah 10 persen.
Kekuatan para kandidat itu bisa dikatakan sebagai gerombolan kuda hitam yang belum bisa mendekati persentase ideal untuk memenangkan kontestasi Pilpres 2024.
Simulasi pasangan manapun belum cukup menembus persentase di atas 45 persen.
Perebutan dukungan masyarakat masih terus berjalan. Namun agaknya akan sulit mengingat tiga Capres teratas memiliki rekam jejak politik yang nyaris sama dan saling berkaitan.
MenHan Prabowo sudah tiga kali maju, tidak pernah menang. Anies juga bagian dari Prabowo ketika Pilkada DKI dimenangkan dengan politik identitas. Sementara Ganjar memiliki gaya yang persis seperti Jokowi. Suka blusukan.
Ketiganya identik dengan cebong dan kadrun. Stikma yang menjadi ancaman besar perpecahan bangsa.
Masyarakat januh. Butuh sosok kuda putih perkasa yang benar-benar mampu menyatukan keretakan masa lalu.
Kuda putih yang mampu berlari kencang di antara kuda-kuda hitam!
Oleh Fazar Muhardi



Popularitas Film Adaptasi Game dan Komik Meningkat, Penonton Global Semakin Antusias
Riaubook.com-Industri film global terus mengalami perkembangan yang signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Salah satu tren yang semakin menonjol adalah meningkatnya…