RIAUBOOK.COM - Adalah Aco seorang kuli pikul di Pasar Sentral Kota Kendari. Mirirsnya lagi, Aco dianggap sebagian warga kurang waras.
Namun tiba-tiba saja Aco datang untuk berkurban satu ekor sapi di kawasan tersebut. Fakta itu kontan saja membuat masyarakat terkejut.
Tak punya KTP dan tak tahu kapan dilahirkan, Aco masih sebetulnya masih bisa diajak berkomunikasi. Namun dengan kondisinya, Aco sering kali tak nyambung saat diajak berbicara.
" Orang gila bisa kurban sapi?" begitu kira-kira pertanyaan yang selalu muncul.
Tak banyak yang tahu jika sapi itu dibeli Aco dari hasil tabungannya. Sapi kurban diserahkan untuk Hari Raya Idul Adha pada Rabu, 22 Agustus 2018.
Awalnya, niat dan tekad Aco sempat ditolak oleh keluarganya. Namun, karena keteguhan hatinya, Aco tetap berkurban.
Awal Dianggap Kurang Waras
Sapi milik Aco memang tak seberat sapi Jokowi. Harganya pun cuma Rp 8,3 juta.
"Menabung tiap hari. Setahun lebih nabung," kata Aco kepada Liputan6.com, Senin, 20 Agustus 2018.
Sebelum menjadi kuli pikul pada 2016, Aco ternyata pernah bekerja sebagai pegawai sebuah perusahaan distributor pangan. Namun dia dipecat karena dianggap lalai saat bekerja.
"Saya dipukul. Lalu, saya keluar dan jadi tukang pikul di pasar," kata Aco.
Sejak itu, Aco seperti hilang ingatan. Ia dianggap kurang waras. Cap yang semakin kuat karena Aco yang hanya bersekolah sampai kelas 4 SD tak bisa membaca maupun menulis.
Bekerja menjadi kuli pikul di Pasar Sentral ternyata membuat hidup Aco tenang. Ia menyisihkan sebagian uang di tabungannya di rumah. "Saya bisa menabung segini tiap hari," kata Aco, menunjukkan tiga jarinya. Artinya ia mampu menabung Rp 30 ribu tiap harinya.
Uang itu berasal dari upah pengguna jasanya. Bukan hanya pedagang pasar yang membongkar dagangannya dan berat yang menggunakan jasanya. Para pengunjung pasar sering menggunakan jasanya saat belanjaannya banyak dan berat.
Rajin Menabung
Tak ada tarif pasti atas kerjanya itu. Biasanya semua terserah si pengguna jasa. Rata-rata untuk sekali pikul barang dari los pasar ke tempat parkir Aco mendapat upah Rp 2.000 atau Rp 1.000. Pengguna jasanya yang menentukan tarifnya.
"Ya, dikasih seikhlasnya. Saya tak pernah minta," kata Aco.
Aco dikenal ikhlas dan ringan tangan. Abbah, seorang kerabat Aco, menyebutkan bahwa Aco memang orang yang rajin.
"Dikasih berapa pun. Tak dikasih juga sering. Aco orangnya rajin dan menerima apa adanya," kata Abbah.
Wa Ode Sukaesih (46), wanita penjahit sepatu tempat Aco sehari-hari mangkal, mengatakan pria yang belum beristri itu dikenal irit. Dia cuma makan ala kadarnya setiap hari.
"Sekali sehari. Kadang diberi oleh pedagang pasar, makanya kami juga heran," ujar Wa Ode Sukawai. (Dream)


Popularitas Film Adaptasi Game dan Komik Meningkat, Penonton Global Semakin Antusias
Riaubook.com-Industri film global terus mengalami perkembangan yang signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Salah satu tren yang semakin menonjol adalah meningkatnya…