TUJUH tahun lalu, ketika asap pekat mengerayang langit hingga seperti abu, hutan-hutan dibakar dan terbakar, seiring itu duka pun menyelimuti langit Bumi Melayu.
Kala itu, tanah bermarwah kehilangan tokoh terbaik, dialah Budayawan Melayu Tengku Nasaruddin Said Effendy atau yang akrab di sapa Tenas Effendy.
Menangis para pecinta, yang burduka tidak pun hanya saudara-saudari, tak pun sebatas orang-orang Melayu. Lebih dari itu.
Dalam kisahnya, Tenas mengurung negeri dengan keindahan karya penuh makna, tunjuk ajar tak sebatas uraian kata. Lebih dari itu.
Tujuh tahun setelah kepergiannya, banyak peninggalan sang maha budaya, anak cucu harusnya mampu belajar dari budi luhurnya. Bahkan lebih dari itu.
Lebih dari itu, begitu banyak petuah petunjuk yang telah dia tinggalkan, keturunan Melayu harusnya memiliki kemampuan itu.
Budinya ketika menerima amanah, tercermin dalam bahasanya yang sakral; "Adat orang menerima amanah
berserah diri kepada Allah".
Cerminan ketakwaannya juga terlukis sejalan dengan kalimat; "Kuatkan iman elokkan tingkah, pukalkan hati jangan bercanggah".
Semasa hidup, Tenas memiliki keteguhan yang sungguh dan selalu meluruskan niat tanpa menyalah, arif dan bijak dalam melangkah, faham menyimak pesan dan petuah, faham mengungkai simpul masalah, faham berunding bijak bersiasah".
Kepada yang tua Tenas bersikap merendah, kepada yang muda dia berlaku ramah, dan kepada yang sebaya elokkan tingkahnya.
Tunjuk Ajar Melayu begitu lekat bagi seorang Tenas Effendy. Ketokohannya tak lekang oleh zaman, tak habis pula oleh waktu. Bahkan lebih dari itu.
Warisan Budi Luhur
Tujuh tahun setelah kepergiannya, banyak tinggal jejak dan warisan budi luhurnya. Saat ini, Tenas menjadi sosok yang tak hanya dirindukan. Malah lebih dari itu.
Saat ini, ketika situasi duka kembali menyelimuti lembaga adat, Melayu dalam ancaman degradasi moral yang serius.
Kisruh yang terjadi di tubuh LAM Riau, berlahan membentuk dualisme kepemimpinan. Lembaga yang harusnya menjunjung tinggi budi dan akhlak, mulai tercerai berai.
Para tokoh seperti kehilangan kendali, terjerumus dalam pusaran ambisi yang harusnya tak perlu terjadi.
Gejolak dua arah mulai membentuk konflik yang kian dalam. Bisa jadi mala petaka.
Petaka itu berawal dari kemelut pengelolaan blok migas di Riau. Ketua Dewan Pengurus Harian (DPH) Lembaga Adat Melayu (LAM) Riau Syahril Abubakarmenyuarakan pengelolaan CPP tidak hanya termonopoli pada BUMD Bumi Siak Pusako (BSP) namun dibagi ke BUMD di masing-masing daerah penghasil migas.
LAM Riau masa kepemimpinan Syahril seakan terjebak dalam ambisi bisnis. Situasi itu memburuk dan menimbulkan gejolak dalam internal lembaga.
Mulai dari demonstrasi menuntut Syahril mundur hingga terbentuknya kelompok baru menentang kepemimpinannya berujung dilaksanakannya Musyawarah Besar Luar Biasa (Mubeslub).
Dalam Mubeslub 16-17 April 2022 di Pekanbaru yang diikuti delapan LAMR kabupaten/kota, terpilih pemimpin baru. Datuk Taufik Ikram Jamil diamahkan menggantikan kepemimpinan Syahril Abubakar.
Sementara jabatan Ketua Umum Majelis Kerapatan Adat Lembaga Adat Melayu Riau (Ketum MKA LAMR) masih diamanahkan kepada Datuk Seri Raja Marjohan Yusuf.
"Saya akan tetap melaksanakan Mubes LAMR Riau seperti yang telah dijadwalkan dan disepakati bersama sebelumnya, yakni dilaksanakan di Dumai," kata Syahril.
Mubes LAMR sejatinya dilaksanakan hari ini, Selasa 19 April 2022 di Kota Dumai. Tak dijelaskan secara baik pihak-pihak yang terlibat dalam Mubes itu, namun Syahril memastikan kegiatan itu akan tetap dilaksanakan.
"Apapun hasilnya akan tetap kita pegang dan akan dihadapkan ke persidangan untuk menggugurkan hasil Mubeslub LAMR sebelumnya," demikian Syahril.
Kisruh panjang LAMR menarik perhatian sejumlah pihak, para tokoh angkat bicara, namun sepintas tanpa menimbulkan reaksi positif.
Pemerintah Provinsi Riau secara mendadak kemudian mengeluarkan surat pengosongan kantor LAMR yang selama ini menjadi rumah para petuah, para petinggi adat.
Ragam suara para tokoh Melayu masih mengarah pada keberpihakan, kondisi itu memperkeruh konflik dualisme kepemimpinan LAMR.
Kemelut LAMR seakan menampar para pendahulu, keadaan itu menimbulkan kesan buruk di tengah masyarakat. Bahkan lebih dari itu.
Lebih dari itu, harusnya tunjuk ajar yang digoreskan Maha Guru cukup menjadi petunjuk menyelesaikan konflik itu.
Bagaikan kayu di tengah padang, harusnya menjadi tempat beramu besar dan kecil.
Rimbun daun tempat berteduh, kuat dahannya tempat bergantung. Besar batang tempat bersandar, kokoh uratnya tempat bersilang.
Tempat kusut diselesaikan, tempat keruh dijernihkan. Tempat sengketa disudahkan, tempat hukum dijalankan.
Tempat adat ditegakkan, tempat syarak didirikan. Tempat lembaga dituangkan, tempat undang diundangkan.
Tempat memberi kata putus. Atau bahkan lebih dari itu.
Oleh Fazar Muhardi



Popularitas Film Adaptasi Game dan Komik Meningkat, Penonton Global Semakin Antusias
Riaubook.com-Industri film global terus mengalami perkembangan yang signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Salah satu tren yang semakin menonjol adalah meningkatnya…