TIDAK ada akhir sama sekali dari kebohongan yang bisa dikatakan seseorang, begitu mereka mulai.
Ungkapan Kim Edwards 'tersandar' dikasus pembunuhan Brigadir Joshua Hutabarat (J) yang terus bergelinding membesar layaknya bola salju.
Jasad yang terkulai kaku dengan bekas tembakan dan penyiksaan pedih di sekujur tubuh itu dituduh melecehkan isteri seorang jenderal polisi.
Namun tudingan terhadap jasad seorang brigadir itu terbantahkan setelah fakta-fakta mengungkap kejanggalan.
Bagaimana mungkin seorang ajudan berani melakukan pelecehan seksual terhadap isteri jenderal yang dikawalnya?
Pertanyaan itu menimbulkan turunan pertanyaan-pertanyaan janggal lainnya, termasuk; bagaimana mungkin seorang sniper terbunuh dengan tujuh tembakan dari peluru yang dilepaskan polisi berpangkat Bharada?
Di tengah kegaduhan terkait tewasnya Brigadir J, publik kembali dihebohkan munculnya sosok seorang polwan cantik bernama AKP Rita yang dikait-kaitkan sebagai orang ketiga dalam rumah tanggal Irjen Ferdy Sambo.
Belum selesai sampai disitu, publik dunia maya dikejutkan dengan informasi detail dari akun @buronanmabes yang mengungkap keterlibatan Ferdy Sambo dan sejumlah jenderal Polri lainnya dalam perlindungan mafia judi online bersandi '303 konsorsium' dan mafia narkoba skala internasional.
'Semesta' seperti mengeluarkan jasad Brigadir J dari 'lubang' fitnah yang dalam, membangkitkan dan mengungkap kebenaran penyebab kematiannya.
Berlahan tapi pasti, jasad Brigadir J yang sebelumnya dituduh sebagai pelaku pelecehan seksual, berbalik menjerat para pendusta dalam kasus pembunuhan berencana.
Awal tabir kebenaran itu dibuka oleh Bharada E. Dia mengakui pembunuhan keji terhadap rekannya Brigadir J didalangi oleh 'scriptwriter' bernama Ferdy Sambo, seorang jenderal bintang dua yang tidak lain adalah atasannya sendiri.
Tim khusus Mabes Polri yang menangani kasus tersebut kemudian menetapkan Irjen Ferdy Sambo bersama tiga ajudannya sebagai tersangka dugaan pembunuhan berencana.
Terakhir sang isteri jenderal, Putri Candrawathi yang sempat melaporkan jasad Brigadir J sebagai pelaku pelecehan seksual, justru terjerumus dalam perkara persekongkolan menghabisi nyawa sang ajudan.
"Penyidik telah menetapkan saudara PC (Putri Candrawathi) sebagai tersangka," kata Inspektur Pengawasan Umum (Irwasum) Polri Komjen Polisi Agung Budi Maryoto di Gedung Bareskrim Polri, Jakarta, Jumat (19/8/2022).
"Tim khusus juga telah memeriksa 80 saksi yang sebagian telah ditahan untuk diperiksa lebih mendalam, termasuk sejumlah jenderal dan perwira menengah," Irwasum menambahkan.
Kasus '303'
Seiring pengungkapan pembunuhan berencana Brigadir J, 'semesta' juga membuka tabir perjudian '303 konsorsium' yang melibatkan mantan Kadiv Propam Irjen Ferdy Sambo.
Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo kemudian memerintahkan jajarannya untuk membongkar semua praktik perjudian tanpa ada tebang pilih.
"Saya tidak memberikan toleransi (perjudian) kalau masih ada kedapatan, pejabatnya saya copot, saya tidak peduli apakah itu Kapolres, apakah itu Direktur, apakah itu Kapolda saya copot. Demikian juga di Mabes tolong untuk diperhatikan akan saya copot juga," kata Kapolri Sigit.
Dia mengatakan, semua bentuk perjudian baik darat maupun online semuanya harus diberantas habis, begitu juga masalah narkoba dan pungutan liar.
"Mulai dari peredaran narkotika, perjudian baik konvensional ataupunonline, adanya pungutan liar (pungli), illega mining, penyalahgunaan BBM dan LPG, sikap arogan hingga adanya keberpihakan anggota dalam menangani permasalahan hukum di masyarakat semuanya harus diberantas," kata Sigit.
Atas instruksi tegas Kapolri, seluruh jajaran kepolisian di berbagai daerah ramai-ramai mengungkap kasus perjudian.
Polda Sumatera Utara misalnya, mengungkap jaringan judi online milik Apin BK yang beromset ratusan miliar. Terdapat dua website judi online dan sebanyak 133 rekening telah diblokir terkait kasus tersebut.
Sementara itu Direktorat Reserse Kriminal Umum (Dikrimum) Polda Jawa Tengah membongkar sejumlah kasus judi online dengan menangkap 28 pelaku.
"Polda Jateng dalam 1 hari kita ungkap hampir di sembilan polres, kemudian 11 TKP, dan 28 pelaku kita tangkap dalam satu hari," kata Kapolda Jawa Tengah (Jateng) Irjen Ahmad Luthfi.
Tak hanya itu, Polda Jateng juga mengungkap judi online terbesar dikarenakan server tersebut berpusat di Kamboja.
"Judi online terbesar, pelaku ada enam orang, kita lakukan lidik dan akan kita kembangkan tidak hanya di Jateng tapi lintas polda, karena server pusatnya ada di Kamboja, bahkan ada salah satu pelaku yang dididik disana," kata dia.
Polda Jatim dalam rilisnya menyatakan telah menangkap total 500 pelaku perjudian online yang diamankan dari 327 kasus.
"Ada 500 tersangka yang ditangkap dari 327 laporan polisi terkait dengan judionlineini," kata Kabidhumas Polda Jatim Kombespol Dirmanto.
Kemudian Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Metro Jaya juga menggerebek kantor operator judi daring (online) di kawasan Pantai Indah Kapuk, Jakarta Utara.
Pengungkapan kasus judi online pada 12 Agustus 2022 pukul 02.00 WIB di Rukan Exclusive Blok E nomor 39A Bukit Golf Mediterania Jalan Pantai Indah Kapuk, Jakarta Utara.
Diausul kemudian Polda Sumbar, Jambi, Sulawesi Selatan dan Polda Riau yang berhasil mengungkap jaringan perjudian dan berhasil mengamankan ratusan tersangka dalam perkara tersebut.
Terkuak LGBT
Belum selesai perkara pembunuhan dan perjudian, 'semesta' kembali memunculkan kabar Irjen Ferdy Sambo yang memiliki kelainan seksual.
"Dia seorang biseksual, suka dengan wanita tapi juga mau sama pria," kata mantan kuasa hukum Brigadir E, Deolipa.
Menurut Deolipa, informasi adanya potensi LGBT dalam kasus ini, justru dipastikan oleh penyidik yang memberitahunya.
"Ketika penyidik bilang ada potensi LGBT artinya intelijen sudah jadi. Bahwasanya pernyataan penyidik langsung saya pegang. Awalnya saya punya kemungkinan para pelaku adalah LGBT itu semua. Ternyata tidak semua. Ketika penyidik bilang LGBT, hmm mampus deh dunia ini," ungkap Deolipa.
Untuk diketahui, kabar adanya kelompok jaringan LGBT di tubuh Polri telah muncul sejak Kapolri Jenderal Idham Azis.
Jenderal Idham Azis bahkan sempat menahan puluhan polisi LGBT di mana beberapa diantaranya merupakan perwira penengah dan perwira tinggi.
Ketika itu (tahun 2020) terdapat seorang oknum perwira tinggi (pati) di Polri yang diduga terlibat dalam kelompok Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender (LGBT).
Oknum yang diketahui berinisial E ini berpangkat Brigadir Jenderal (Brigjen) atau jenderal berbintang satu.
Brigjen Polisi E sendiri dikabarkan bertugas di lingkungan Markas Besar (Mabes) Polri.
Lantas bagaimana jaringan kelompok LGBT dimasa Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo?
"Jika pucuk pimpinan satu lembaga seorang biseksual, maka bahayanya bisa menghancurkan satu negara," kata Deolipa.
Dan jika 'jaghana' --bagian yang paling dalam-- dari kasus pembunuhan Brigadir J adalah biseksual, maka perjudian dan narkoba adalah pembungkusnya.
Oleh Fazar Muhardi



Popularitas Film Adaptasi Game dan Komik Meningkat, Penonton Global Semakin Antusias
Riaubook.com-Industri film global terus mengalami perkembangan yang signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Salah satu tren yang semakin menonjol adalah meningkatnya…