MUNCULNYA Fenomena pengalihan dukungan sejumlah eks pasukan Jokowi ke Anies Baswedan beberapa waktu terakhir memantik ragam pertanyaan.
Para eks pendukung Jokowi yang belakangan terang-terangan berbalik dukung Anies untuk 2024 itu di antaranya, eks tangan kanan Ahok, Sunny Tanuwidjaja, eks Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Sudirman Said dan mantan Menteri Perdagangan, Thomas Lembong.
Terkait fenomena tersebut, beberapa misalnya, mempertanyakan apa motif di balik hijrahnya eks pembela Jokowi ke Anies.Ada yang bahkan menaruh prasangka, jangan-jangan adahidden agendayang hendak menyambungkan Anies ke para taipan untuk kepentingan sokongan dana 2024.
Berbagai kecurigaan seputar hengkangnya para mantan pasukan Jokowi itu sebetulnya mewakili pertanyaan hampir seluruh pendukung ataupun simpatisan Anies saat ini.Pasalnya, sudah barang tentu terdapat sejumlah alasan yang melandasi tujuan merapatnya para mantan pembela Jokowi itu ke Anies.
Di samping itu, hal lain yang juga perlu ditelisik ialah potensi keterseretan Anies. Sebab, kemungkinan Anies terseret atau menyeretkan diri ke klik oligarki baru sangat berpeluang terjadi.Karena itu, di balik fenomena ini silang kelindan kepentingan antara Anies dan para eks pengawal Jokowi perlu untuk dibedah.
Kaitannya dengan itu, tulisan ini berpijak pada pertanyaan, apa motif di balik merapatnya orang dekat Jokowi ke Anies dan bagaimana potensi keterseretan Anies ke dalam lingkaran oligarki baru?
Pesona Hijau Islam
Bukan rahasia lagi kalau Anies kini menjadi salah satu bakal calon presiden 2024 yang mendapat dukungan kuat dari kelompok Islam.Fakta bahwa Anies mendapatkan dukungan dari kalangan Islam ini rasanya tidak perlu diperdebatkan lagi.
Bukti kuat terkait ini dapat diamati melalui kemenangannya pada Pilkada DKI Jakarta 2017 silam saat dirinya bersama Sandiaga S Uno berhasil mempecundangi para kompetitor mereka.Ketika itu, banyak kalangan memprediksi Ahok-Djarot yang bakal memenangi Pilkada DKI, mengingat persona Ahok saat itu sedang naik daun.
Namun, siapa sangka kalau pemenangnya ternyata justru Anies-Sandi. Menariknya, salah satu faktor keberhasilan Anies-Sandi itu berkat dukungan kelompok Islam, terutama dari kelompok Islam sayap kanan.Fakta empiris ini lah yang membuat media sekelasBBCsempat meluncurkank berita (27/04/2017) ber-tagline:Ketika Anies-Sandi menang dengan kekuatan Islamis.
Fakta seputar kuatnya dukungan kelompok Islam terhadap Anies nyatanya tidak berhenti sampai di situ.Dilansir dari Katadata.co.id (25/4/2022), di antara tiga nama paling populer menjelang Pemilu 2024, yakni Prabowo, Anies dan Ganjar, hanya Anies yang berhasil mencuri pilihan kaum muslim.
Sedangkan, Prabowo dan Ganjar kebanyakan mendapatkan dukungan dari kalangan nasionalis. Adapun peta dukungan tersebut diperolah melalui laporan survei Charta Politika Indonesia pada Juni lalu.Bertolak pada peta dukungan yang ada, Anies yang kini dirumorkan akan bergandeng tangan dengan dengan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) bakal tampil jadi kuda hitam pada kontestasi elektoral akan datang.
Kombinasi Anies-AHY selain merefleksikan kekuatan satu warna dua bendera (Islam-militer), juga dibayangi kuat kepentingan AS, karena keduanya punya garis DNA Paman Sam.Adapun, antitesis Anies-AHY adalah Andika-Ganjar. Sebab, pasangan yang disebutkan terakhir ini selain merefleksikan kekuatan nasionalis-militer juga dibayangi kuat kepentingan AS-Tirai Bambu.
Seandainya, palu putusan negara pembayang ternyata jatuh pada Andika-Ganjar, maka besar kemungkinan akan terjadi peristiwa pengguntingan dalam lipatan.Sungguhpun demikian, skema negara pembayang tidak akan menafikan eksistensi kekuatan hijau Islam dan hijau militer.
Terutama hijau Islam, kekuatan ini selalu menjadiending determination. Daya tawar inilah yang selalu diburu banyak pihak, terutama dalam hal ini AS dan China.Sadar akan kuatnya dukungan kelompok Islamis ke Anies inilah kemungkinan jadi alasan banyak yang berbelot dan memberikan dukungan ke Anies, termasuk dalam hal ini barisan para pendukung Jokowi.
Pesona hijau Islam dengan demikian menjadi magnet bagi para pemangku kepentingan, termasuk di dalamnya para 'pejudi politik' demi kelangsungan bisnis dan kekuasaan mereka.Bagi para pejudi politik–yang terbiasa hidup dengan cara menjilat kekuasaan–lawan/kawan bukan hal prinsipil dalamgrammarpolitik mereka.
Selama masih bisa mengeruk keuntungan dari setiap perjudian baik itu kepada musuh maupun teman sendiri, sejauh itu juga mereka akan tetap mendekatkan diri.Maka itu, tidak heran ketika mereka yang kini berbalik dukung Anies-terlepas sebelumnya memusuhi Anies-merasa keputusan diambil bukan sesuatu yang cacat secara moral.
Pertanyaannya, akankah Anies terseret ke dalam klik oligarki baru melalui tentakel-tentakel oligarki yang kini mulai melilitnya secara perlahan? Ataukah ini jebakan? Atau, jangan-jangan justru ini yang diinginkan Anies demi bisa meraih kursi Nusantara 1?
Anies Siap Ganti Baju?
Teka-teki seputar pembelotan eks pendukung Jokowi ke Anies memang masih belum terpecahkan. Namun, motif dan alasan di balik fenomena ini bisa dianalisis dengan menggunakan kacamata sosiologis. Singkatntya, kasus migrasi dukungan ini bisa ditelaah menggunakan pendekatanexchange theory-teori pertukaran.
Menurut pendekatan pertukaran, terutama yang dikembangkan sosiolog Peter M Blau, seseorang akan berhenti bertindak (kerja sama, setia dalam tim, mempertahankan hubungan, dll.) ketika reaksi yang diharapkan tidak kunjung datang. Atau, kalau bisa disederhanakan menjadi, seseorang akan cenderung melanjutkan hubungannya dengan siapapun ketika kepentingannya terpenuhi.
Sebaliknya, ia akan memilih hengkang tatkala apa yang diharapkannya (ganjaran) dari interaksi bersama orang-orang tertentu tidak lagi memberikan manfaat.Dengan memahami rumus sederhana pertukaran sosial ini memudahkan analisis kita terhadap alasan kepindahan eks pasukan Jokowi ke Anies.
Dengan kata lain, boleh jadi para eks pasukan Jokowi menyadari interaksi dengan Jokowi dan tim tidak lagi memberikan banyak keuntungan, sehingga perlu mencari kawan baru.Dan, kebetulan, di saat yang sama mereka melihat Anies merupakan sosok yang tepat untuk dijadikan partner bisnis baru.
Rumus resiprokal juga berlaku untuk Anies. Bahwa kesempatan merapatnya para eks pasukan Jokowi itu setidaknya memberikan sejumlahrewardtambahan.
Pertama, itu akan menambah kekuatan Anies dalam menyongsong Pemilu 2024, menimbang para pembelot Jokowi itu memiliki peran strategis dalam membantu mencarikan tambahan biaya politik.
Kedua, kehadiran mereka dengan sendirinya menegasikan anggapan kelompok Islam fobia yang cenderung mengasosiasikan Anies dengan kelompok Islam sayap kanan.Masuknya kelompok ini juga secara tak langsung menetralisir stigma politik identitas yang sejauh ini lekat dengan Anies.
Ketiga,para eks pasukan Jokowi akan memberikan pengaruh besar, terutama dalam menjembatani Anies ke kelompok oligarki (elite predatoris).
Akhirnya, dalam situasi ketidakjelasan siapa akan memanfaatkan siapa dalam kasus hijrahnya para eks pasukan Jokowi ini memberikan tafsir terbuka mengenai ragam kemungkinan yang akan terjadi.
Ibarat pedang bermata dua, fenomena ini boleh jadi memberikan peluang besar kepada Anies untuk melaju ke istana dengan memanfaatkan momentum hengkangnya orang-orang Jokowi.Namun, situasi bisa juga berbalik menjadi jebakan batman bagi Anies untuk masuk ke dalam lingkaran oligarki baru. Menarik untuk ditunggu apa yang terjadi selanjutnya.
Penulis: Harsam (Research Director of IndoNarator)



Popularitas Film Adaptasi Game dan Komik Meningkat, Penonton Global Semakin Antusias
Riaubook.com-Industri film global terus mengalami perkembangan yang signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Salah satu tren yang semakin menonjol adalah meningkatnya…