"Yang paling menyedihkan adalah ketika pengkhianatan itu bukan datang dari musuh-musuhmu, tetapi justru
dari teman yang selama ini kau percayai".-- pepatah.
RIAUBOOK.COM, INDONARATOR - Temperatur politik menyongsong Pemilu 2024 sedang 'mendidih'. Gerak anasir dalam berbagai medium politik disebut-sebut jadi pemicunya.
Meningginya tensi politik ini memang sesuatu yang wajar di tengah menjemput pesta akbar elektoral, sebab berbagai kepentingan saling berebut momen.
Di saat bersamaan, tantangan besar justru dihadapi sosok presiden Joko Widodo (Jokowi). Iya, Jokowi kini diperhadapkan tiga persoalan krusial: bagaimana mengakhiri masa jabatannya dengan tenang dan selamat; mencegah potensi konflik terbuka di antara kelompok kepentingan, dan; mencari penerusnya yang tepat.
Untuk memecahkan tantangan itu Jokowi tentu harus sebisa mungkin 'bermain' cantik tanpa cacat di sisa kontrak pemerintahannya. Karena, sekali saja ia blunder, semua harapan bakal sirna dalam sekejap.
Belum lagi, eks Gubernur DKI Jakarta itu kini tahtanya sedang digoyang oleh tidak hanya orang-orang yang selama ini terang-terangan beroposisi dengannya, melainkan juga oleh mereka yang justru sejak awal menggemblengnya ke istana.
Retak-patah Jalinan yang Utuh?
Meski beberapa berusaha menepis kabar keretakan hubungan antara Jokowi dan PDIP, tetap saja tidak bisa menyembunyikan disharmoni yang terjadi di internal. Sejumlah indikasi justru memperlihatkan secara gamblang terkait kondisi tersebut.
Adapun indikasi-indikasi tersebut di antaranya, terlihat saat Ketum PDIP, Megawati memilih tidak hadir di Upacara Peringatan Hari Lahir Pancasila tahun 2022 bersama Presiden Jokowi di Lapangan Pancasila Ende, NTT pada Rabu (1/6/2022).
Ketidakhadiran Megawati di acara ini tentu sedikit janggal. Pasalnya, Megawati merupakan sosok di balik penetapan 1 Juni menjadi hari libur nasional sekaligus diperingati sebagai Hari Lahir Pancasila.
Perjuangan Megawati menjadikan 1 Juni sebagai Hari Lahir Pancasila ini bukan hal mudah. Ia sempat mengusulkan itu di era kepemimpinan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Namun, usulannya tidak direalisasikan sampai pada masa kepemimpinan Jokowi.
Keinginan itu baru terwujud saat presiden Jokowi menetapkan 1 Juni sebagai hari libur nasional melalui Keputusan Presiden (Kepres) No 24 Tahun 2016 tentang Hari Lahir Pancasila.
Yang menarik, Megawati beralasan bahwa ketidakhadirannya di Upacara Peringatan Hari Lahir Pancasila itu lantaran menjadi pembicara kunci di Seminar Nasional Forum Rektor Penguat Karakter Bangsa (FRPKB) yang juga sama-sama dalam agenda memperingati Hari Lahir Pancasila 1 Juni 2022.
Indikasi ketidakharmonisan juga terlihat saat ketidakhadiran Megawati, Puan Maharani dan elite PDIP di acara pernikahan adik Jokowi, Idayati dengan Ketua MK, Anwar Usman beberapa waktu lalu.
Padahal, acara pernikahan tersebut dihadiri sejumlah tokoh penting, sebut saja Wakil Presiden KH Ma'ruf Amin, Panglima TNI Jenderal Andika Perkasa, Menko Polhukam Mahfud Md, Menteri Pertahanan Prabowo Subianto, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo, Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian, Menteri Keuangan Sri Mulyani, Ketua MPR Bambang Soesatyo, hingga sederet pejabat tinggi lainnya.
Megawati kali ini mengaku tak bisa hadir di acara pernikahan tersebut lantaran alasan Covid-19. Sementara, Puan Maharani sedang mengikuti acara mitigasi bencana di Bali. Sedangkan, beberapa elite PDIP lainnya ada yang tidak bisa hadir meski mendapat undangan.
Sebelum itu, Jokowi juga ternyata tidak menghadiri agenda peresmian Smart Campus Dr. (H.C) Ir. Soekarno Medical Intelligence Wangsa Avatara Sekolah Tinggi Intelijen Negara (STIN), yang saat itu dihadiri Megawati.
Puncak dari riak-riak ketidakharmonisan itu belakangan semakin kentara pasca-Rakernas V Projo yang digelar Sabtu, 21 Mei 2022 di Jateng.
Pernyataan Jokowi soal 'ojo kesusu sik' yang ditafsirkan oleh beberapa pihak sebagai sinyal dukungan Jokowi ke Ganjar--yang kebetulan (Ganjar) juga ikut hadir di acara itu--menjadi 'bola panas' yang kemudian mengundang cibiran dan kritikan dari sejumlah elite PDIP.
Dinamika internal PDIP yang kian memanas pasca keluarnya statemen Jokowi yang dinilai mendukung Ganjar, membuat hubungan Jokowi dan PDIP menjadi semakin merenggang.
Pertanyaannya, sejauh mana Jokowi mampu memainkan jurus pamungkasnya untuk keluar dari problematika yang dihadapi?
Menerjang Tembok
Ada tembok besar yang kini menghadang 'sang pemimpin jenius', demikian julukan ProfesorNational University of Singapore,Kishore Mahbubani kepada Jokowi dalam tulisannya,The Genius of Jokowi,terbit di media terkemuka,Project Syndicate.
Julukan si jenius oleh Mahbubani kepada Jokowi bukan tanpa alasan. Jokowi disebut salah satu pemimpin jenius di abad ini lantaran kemampuannya mengelola pembelahan politik.
Diakomodirnya sang rivalitas politik, Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno ke dalam kabinet pemerintahan dinilai sebuah langkah politik yang canggih.
Pasalnya, dengan merangkul sang rival, Jokowi dengan sendiri berhasil meredam ketegangan di arasgrass rootyang sebelumnya mengalami pembelahan luar biasa akibat meruncingnya polarisasi dukungan-cebongdankampret.
Pertanyaannya, apakah Jokowi akan kembali mengulang cerita sukses itu di tengah situasi rumit nan pelik yang ia hadapi saat ini? Sanggupkah Jokowi meloloskan ambisi politiknya dengan konsekuensi menerjang tembok penghalang di sekelilingnya?
Sebagai sang jenius Jokowi boleh jadi sudah punya skenario soal penggantinya di luar apa yang ditafsir banyak orang.
Lakon politiknya yang tak mudah ditebak, membuat sebagian besar orang sukar menerkaendingdari seluruh langkah politiknya. Itulah Jokowi.
Misal saja kehadirannya di pagelaran Formula E kemarin. Banyak yang tidak menyangka kalau ia bakal hadir di sana. Menariknya lagi, di momen yang sama, ia justru tertangkap berpose bareng Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, Puan Maharani, dan sejumlah tokoh penting lainnya.
Kemunculan Jokowi di perhelatan Formula E ini termasuk mengundang tanya. Apalagi, berdasarkan pernyataan Vice President Communication Formula E, Iman Sjafei dalam akun Twitternya, Jokowi ternyata dilaporkan membeli sendiri tiket Formula E Jakarta 2022.
Artinya ia datang bukan karena diundang?
Jika itu benar (tak diundang), apa motif Jokowi hadir? Bukankah Formula E disebut-sebut panggung politik Anies untuk Pilpres 2024? Apakah ini mengindikasikan Jokowi sedang mendekati Anies?
Memang harus diakui, hijau Anies menjadi daya tarik bagi para sponsor politik, termasuk dalam hal ini paraking makersPilpres 2024, Jokowi termasuk?
Lantas, sejauh mana Jokowi mampu meng-goal-kan ambisinya di tengah halauan tembok besar 'Sang Banteng'?
Menarik untuk ditunggu kelanjutannya.
Penulis: Harsam (Research Director of IndoNarator)



Popularitas Film Adaptasi Game dan Komik Meningkat, Penonton Global Semakin Antusias
Riaubook.com-Industri film global terus mengalami perkembangan yang signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Salah satu tren yang semakin menonjol adalah meningkatnya…