RIAUBOOK.COM - Bongkar-pasang capres-cawapres menjelang Pemilu 2024 sampai saat ini masih terus dilakukan. Sayangnya, sampai detik ini harapan terciptanya senyawa politik itu masih gagal tercipta lantaran berbagai anasir politik--yang hendak dipadukan itu--belum punya kesamaan kebutuhan.
Sejumlah kendala pun akhirnya jadi daftar alasan. Mulai dari pertimbangan elektabilitas, akseptabilitas, prasyarat preshold (presidential treshold) partai pengusung, hingga sebaran dukungan di level akar rumput.
Ambil contoh, hadirnya sederet figur potensial seperti Prabowo Subianto, Ganjar Pranowo, Anies Baswedan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), Ridwan Kamil, Andika Perkasa, Erick Thohir, Puan Maharani, Gatot Nurmantyo, dan beberapa lainnya, yang nyatanya belum dapat diolah jadi pasangan (senyawa) yang pas.
Setelah sekian eksperimen coba dilakukan dengan harapan mampu 'mengikat hati' di antara para pencari jodoh agar bisa unjuk pamer pasangan di Pemilu mendatang, kini kembali bermunculan pasangan tentatif, mulai dari Ganjar-Erick, Prabowo-Puan, Ganjar-Perkasa, Puan-Anies, hingga Andika-Anies.
Menarik untuk dicermati bahwa dari simulasi pasangan di atas, publik ternyata memberikan persepsi beragam. Ada yang mendapatkan poin tertinggi, namun ada pula yang hanya meraih poin pas-pasan.
Lantas, bagaimana dengan simulasi pasangan Andika-Anies yang kini digadang-gadang bakal jadi pasangan ideal Pemilu 2024?
Kombinasi Militer-Sipil
Salah satu pertimbangan mengapa pasangan Andika-Anies dianggap ideal, tak lain karena keduanya merepresentasikan unsur militer-sipil--suatu kombinasi pasangan presiden-wakil presiden yang paling didambakan masyarakat Indonesia.
Terkait ketertarikan publik terhadap paket kandidasi militer-sipil ini dapat dicermati melalui hasil survei Parameter Politik Indonesia baru-baru ini. Dalam rilisnya disebutkan bahwa sebanyak 30,2 persen responden lebih suka jkombinasi Capres-Cawapres dari kalangan militer-sipil.
Perpaduan militer-sipil ini bahkan mendapatkan poin tertinggi dari kombinasi Capres-Cawapres dari sipil-sipil sebesar 26,1 persen, diikuti kombinasi sipil-militer 18,6 persen, dan militer-militer 11,1 persen.
Apa yang bisa dimaknai dari temuan di atas adalah bahwa publik sejatinya masih menggandrungi munculnya paket militer-sipil untuk Pemilu ke depan.
Dengan begitu, bukan tidak mungkin pasangan Andika-Anies yang--dalam hal ini--mewakili kedua unsur masih memiliki kans untuk mendapatkan dukungan konstituen.
Sebetulnya, dibandingkan Andika, Prabowo di atas kertas jauh lebih diunggulkan jika faktor (latar belakang) militer jadi referensi politik. Terlebih, dengan membandingkan elektabilitas Prabowo yang sampai sekarang masih terbilang di atas angin.
Akan tetapi, sosok eks Danjen Kopassus itu belakangan mulai mengalami stagnasi dukungan-setidaknya jika mengacu pada hasil survei mutakhir-ditambah sebagian besar basis pendukungnya pada Pilpres 2019, yang mayoritas didukung kelompok Islam sayap kanan, mulai meninggalkannya karena alasan politik.
Satu-satunya kekuatan Prabowo, jika masih maju di Pilpres mendatang, bergantung pada restu Jokowi dan atau mendapatkan dukungan dari PDIP. Mengapa dua variabel dukungan penting bagi Prabowo?
Sebab, setelah ditinggal basis konstituennya, satu-satunya yang bisa diharapkan untuk bisa mendulang suara sang kontestan Pilpres tiga periode itu adalah suara dari kelompok Islam moderat atau kelompok nasionalis yang kini dimiliki baik Jokowi maupun PDIP.
Tanpa itu, Prabowo hanya akan mengulang kekalahannya untuk kesekian kali.
Sementara, sosok Andika boleh dibilang calon pensiunan militer yang namanya perlahan terus popular di kalangan masyarakat. Semenjak ia diangkat menjadi Panglima TNI, tren popularitasnya semakin menguat dari waktu ke waktu.
Sebagaimana dilansirDetik(5/5/2022), Andika seperti diakui Direktur Eksekutif Charta Politika Indonesia Yunarto Wijaya, namanya belakangan mulai disebut-sebut, dan berpotensi menjadi kontestan (kuat) pada Pemilu akan datang.
Lantas, bagaimana dengan Anies yang dipasangkan dengan Andika?
Tanpa meragukan lagi, Anies merupakan salah satu di antara dua tokoh nonmiliter, bersama Ganjar, yang paling sering menghiasi nominasi tiga besar survei elektabilitas kandidat presiden pasca-Jokowi. Harus diakui bahwa nama Anies sedang naik daun menjelang Pemilu 2024.
Bermodalkan raihan elektabilitas dan ketertarikan publik terhadap sosok Andika-Anies, keduanya pun diyakini mampu menyingkirkan rivalitas politiknya.
Kendati begitu, kemenangan Pemilu 2024 tetap milik kekuatansatu warna dua bendera.Lantas, bagaimana melihat pasangan Andika-Anies dalam konteks dukungan kekuatan deterimatif ini?
DeterminasiSatu Warna Dua Bendera
Percaya atau tidak percaya, suka ataupun tidak suka, Pemilu 2024 akan ditentukan kekuatan satu warna dua bendera.
Satu warna dua bendera dimaksud tak lain, kekuatan militer dan Islam. Karena itu, siapapun kandidat yang mendapatendorsementatau dukungan dari kekuatan tersebut sudah bisa ditebak akan menang di Pilpres mendatang.
Dari pengalaman sebelumnya telah kita saksikan betapa Islam dan militer hadir sebagai dua kekuatan determinan terhadap peta perpolitikan Tanah Air.
Khusus dalam kontekselectoral politics,suara umat dan keterlibatan militer menjadi tolok ukur bagi kemenangan elektoral itu sendiri.
Pada era Reformasi, peran militer dalam politik memang mulai dibatasi menyusul dihapusnya Dwifungsi ABRI.
Akan tetapi, peran para purnawirawan militer masih cukup kuat dalam memengaruhi jalannya perpolitikan utamanya di kancah nasional.
Pemilu 2019 menjadi bukti nyata sengitnya pertarungan politik di kalangan para pensiunan jenderal militer.
Lantas, bagaimana dengan kekuatan Islam (umat)?
Bukan rahasia lagi, suara umat menjadi barometer di balik setiap kemenangan elektoral.
Meski tidak solid, suara umat tetap jadi penentu akhir perheletan Pemilu. Deretan presiden dan wakil presiden pascareformasi adalah buah dari dukungan suara umat.
Inilah yang membuat kekuatan umat menjadi magnet bagi kelompok kepentingan, bahkan menjadi basis pertimbangan kepentingan asing dalam memberikan dukungannya ke kandidat yang disponsori.
Dengan lain kata, para sponsor asing sebelum menjatuhkan dukungan ke salah satu kandidat yang dikehendaki, mereka terlebih dahulu melihat komposisi dukungan yang ada, terutama yang datang dari dukungan kelompok Islam dan militer.
Pertimbangan sponsor dari luar itu cukup dipahami, mengingat keberlangsungan suatu pemerintahan yang stabil sangat kuat dipengaruhi oleh kekuatan penting yang ada di negara bersangkutan. Sementara, kita ketahui umat Islam di Indonesia adalah mayoritas.
Dengan begitu, tanpa mempertimbangkan legitimasi umat, jaminan stabilitas pemerintahan sulit dipastikan. Dan, hal itu sudah pasti membawa kerugian bagi kepentingan asing untuk kepentingan kelancaran bisnisnya di Indonesia.
Walhasil, dalam kaitannya dengan variabel satu warna dua bendera ini, apakah sosok pasangan Andika-Anies terbilang berpeluang besar lantaran latar belakang keduanya yang berangkat dari representasi militer-sipil dan atau militer-Islam?
Untuk menakar peluang pasangan Andika-Anies meraih podium 2024 cukup terbuka lebar, tentu dengan mempertimbangkan segala variabel yang ada.
Namun, seperti halnya pasangan kandidasi lainnya, Andika-Anies pun terbilang masih sebatas simulasi. Apalagi, dalam soal utak-atik pasangan politik ini bukan ditentukan satu variabel tunggal.
Karenanya, segala kemungkinan yang terjadi di depan masih sangat terbuka, termasuk soal siapa berpasangan dengan siapa untuk kepentingan Indonesia di 2024.
Di balik semua itu, satu hal pasti dan sulit berubah ialah apapun yang terjadi nanti, kemenangan tetap ditentukan oleh kekuatansatu warna dua bendera.
Penulis: Harsam (Research Director of IndoNarator)



Popularitas Film Adaptasi Game dan Komik Meningkat, Penonton Global Semakin Antusias
Riaubook.com-Industri film global terus mengalami perkembangan yang signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Salah satu tren yang semakin menonjol adalah meningkatnya…