RIAUBOOK.COM - Tentara Nasional Indonesia (TNI) semakin ditakuti dunia. Kali ini lewat Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Kostrad) telah dibentuk pasukan elit dengan kemampuan mengagumkan bahkan mengerikan.
Pasukan elit tersebut adalah Taipur yang merupakan singkatan dari Kompi Pengintai Tempur.
Meskipun usianya terbilang muda, pasukan elit ini sudah teruji kemampuannya di dalam negeri maupun luar negeri.
Taipur dibentuk oleh Jenderal TNI (Purn) Ryamizard Ryacudu saat masih menjabat sebagai Panglima Kostrad pada 2001.
Dialsnir dari wikipedia, gagasan awal pembentukan Taipur ini lebih banyak ditimba dari pengalaman di lapangan dan berbagai penugasan tempur.
Di situ banyak ditemukan kenyataan bahwa satuan kecil lebih efektif dalam melaksanakan manuver di lapangan.
Dengan pengalaman ini maka timbulah sebuah gagasan dari Pangkostrad pada waktu itu, tahun 2001, Letnan Jenderal TNI Ryamizard Ryacudu untuk membentuk satu pasukan kecil yang dilatih khusus dengan keterampilan-keterampilan tempur serta persenjataan dan perlengkapan khusus.
Seperti alat selam tempur close circuit, kendaraan bawah air dan berbagai jenis senjata canggih lainnya, guna melaksanakan operasi tempur dengan hasil optimal.
Taipur sendiri awalnya bernama Pleton Intai Keamanan (Tintaikam) Brigade.
Akan tetapi, pada tahun 2005, namanya diubah menjadi Peleton Intai Tempur (Tontaipur), dan selanjutnya ditingkatkan menjadi Kompi Taipur.
Taipur menguasai berbagai keahlian khusus, termasuk sabotase, intelijen, dan operasi tempur dengan misi khusus.
Angkatan pertama Taipur langsung diterjunkan ke medan operasi di Aceh pada 2001, atau pada masa awal pembentukannya.
Selain itu, Taipur juga terlibat dalam misi pembebasan Kapal MV Sinar Kudus di Somalia pada 2011 lalu.
Dilansir dari laman resmi Kostrad, kostrad.mil.id, prajurit Taipur memiliki keahlian khas yakni melakukan infiltrasi ke jantung musuh dengan senyap untuk melakukan sabotase, baik di gunung maupun di kota.
Sementara itu, senjata yang kerap digunakan prajurit Taipur adalah senapan serbu, pistol, sangkur, serta sniper.
Bekerja senyap namun tetap efektif membuat Taipur tak begitu populer bagi masyarakat Indonesia. Padahal, pasukan khusus ini ahli bertempur di darat, laut, dan udara.
Prajurit Taipur dilatih dengan keras dan berjenjang.
Mereka berlatih selama tujuh bulan di Cilodong, kemudian puncaknya, mereka dilatih oleh pasukan Cakra di Jatiluhur, Purwakarta, Jawa Barat.
Para prajurit dibekali latihan tempur di alam terbuka, teknik tempur di bawah air, perkotaan, hingga pertempuran jarak dekat.
Oleh sebab itu, prajurit Taipur menguasai teknik intelijen tempur dan mampu menembus pertahanan musuh secara senyap dan efektif.
Menguasai senjata sumpit Dayak
Prajurit Taipur memiliki keahlian khusus lain, yakni penggunaan senjata tradisional masyarakat Dayak, Kalimantan.
Senjata tersebut berupa sumpit dengan jarum yang mengandung racun mematikan dari getah pepohonan khusus atau dari bisa ular.
Sampai saat ini, teknik penggunaan sumpit Dayak masih terdapat dalam kurikulum pelatihan Taipur.
Pasalnya, sumpit Dayak sangat menunjang operasi senyap jarak dekat yang dilakukan oleh pasukan Taipur.
Jarum yang dikeluarkan dari sumpit bisa mencapai sasaran dalam jarak 20-50 meter.
Meski jarang digunakan, senjata sumpit Dayak tetap menjadi senjata khusus Kompi Taipur.
Panjang sumpit Kompi Taipur bisa mencapai 1,9-2,1 meter dan memiliki tiga bagian utama.
Antara lain bagian yang berbentuk pipa, anak sumpit, dan mata tombak di bagian depan.
Sementara itu, panjang jarum dapat mencapai 15 sentimeter atau seukuran telapak tangan orang dewasa.
Pasukan Taipur yang memakai seragam serba hitam turut dibekali teknik menjinakkan bahan peledak, dan memiliki unit K-9 (anjing pelacak).
Berani Mati
Dilansir dari intisari-online, sebagai pasukan yang berkekuatan satu kompi (sekitar 200 orang), tugas utama Tontaipur adalah sebagai penyusup ke wilayah musuh dan mengumpulkan info intelijen, melakukan sabotase, melakukan serangan dadakan, dan lainnya.
Pada prinsipnya pasukan Tontaipur dalam penugasannya secara diam-diam sudah masuk ke daerah lawan secara senyap ketika peperangan yang sesungguhnya belum dimulai.
Pasukan dengan seragam hitam dan berbaret hijau ini juga disiapkan sebagai pasukan antiteror Kostrad.
Motto tempurnya adalah "lebih baik hancur lebur daripada harus menyerah dalam pertempuran".
Pedoman Tontaipur dalam bertempur dengan prinsip "berani mati" it mengambil intisari wejangan Panglima Besar Jenderal Soedirman yang pernah mengucapkan kalimat "lebih baik hancur bersama debu kemerdekaan daripada hidup subur di alam penjajahan".
Selain dibekali kemampuan intelijen tempur dan penguasaan pergerakan musuh, para prajurit Tontaipur juga dibekali kemampuan berperang dengan beragam persenjataan.
Kemampuan lain yang dikuasi prajurit Tontaipur adalah teknik bertahan hidup di hutan, di perairan, dan lainnya.
Salah satu kemampuan yang cukup istimewa dan harus dikuasi oleh setiap prajurit Tontaipur adalah bersembunyi di dalam tanah dan air selama berjam-jam.
Ketika sedang berlatih mengubur diri dalam tanah atau air bersama-sama perlengkapan tempurnya itu, personel Tontaipur hanya mengandalkan alat bantu pernapasan yang sederhana berupa pelepah daun pepaya atau batang dahan bambu.
Secara heirarkis atau garis komando, Kompi Taipur berada di bawah naungan Datasemen Intel Kostrad.
Paling tidak terdapat dua kompi dan masing-masing Kompi berkekuatan sekitar 120 personel.
Sumber kompas



Popularitas Film Adaptasi Game dan Komik Meningkat, Penonton Global Semakin Antusias
Riaubook.com-Industri film global terus mengalami perkembangan yang signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Salah satu tren yang semakin menonjol adalah meningkatnya…