PERILAKU bejat oknum guru pesantren, HW, menambah daftar kelam dunia pendidikan di negeri ini, 'merobek-robek' bangsa moralis, pendidik moral yang justru terbelenggu amoral.
Sebelumnya, seorang dosen di salah satu universitas di Riau diduga mencabuli mahasiswinya, sama hal dengan dosen di Kepri yang berani melontarkan pernyataan mesum ke anak didiknya.
Belum usai pengusutan kasus dua oknum dosen itu, kini rakyat 'oraltis' --sibuk dengan kegaduhan-- dihebohkan kabar seorang 'moralis' pesantren yang tega memerkosa santriwatinya hingga melahirkan anak luar pernikahan.
Bejatnya tidak tangung, dilaporkan ada 12 santriwati yang menjadi korban HW, pengajar pesantren yang harusnya memberikan perlindungan, justru merenggut kehormatan anak didiknya.
Peristiwa itu menarik perhatian banyak pihak, hingga bangsa 'oraltis' dihantui darurat moral yang 'mengunci' kenyamanan anak-anak mereka menuntut ilmu kesucian.
Kisah Moralis
Kisah HW, seorang moralis, diketahui melakukan pemerkosaan terhadap santriwatinya sejak 2016.
Pengacara dari LBH Serikat Petani Pasundan, Yudi Kurnia menyatakan aksi HW tercium pada pertengahan 2021. Saat itu ketika libur lebaran, para korban tengah pulang ke rumah masing-masing.
Awalnya salah satu ibu korban mengaku curiga dengan bentuk tubuh anaknya. Selain itu korban juga tampak murung dan hanya berdiam diri di kamar.
Sang ibu telah mengira anaknya tersebut hamil. Kecurigaan itu bertambah saat salah satu kerabat meminta anaknya untuk dibawa ke bidan.
Anak kerabatnya tersebut juga bersekolah dipesantrentempat HW mengajar. Setelah dibujuk oleh orang tuanya, korban mengaku telah disetubuhi pelaku.
"Baru ngobrol sama saudara-saudaranya di kampung, ngakulah si anak itu bercerita telah disetubuhi oleh si pelaku itu," kata Yudi, Minggu (12/12/2021).
Saat itu, korban langsung dibawa ke bidan untuk dilakukan pemeriksaan dan dinyatakan tengah mengandung. Keluarga korban pun langsung berdiskusi dan berencana meminta pertanggungjawabanHW.
"Si anak (korban) berbicara kalau bukan dia saja korbannya. Itu yang membuat berubah rencana yang tadinya mau minta pertanggungjawaban dinikahi karena ini korbannya bukan satu yang menjadi kebingungan si keluarga," kata Yudi.
Yudi mengatakan, ada tiga anak di satu kampung dengan korban yang bersekolah di lokasi yang sama. Korban menyebutkan, beberapa di antaranya juga menjadi korban HW.
Awalnya tiga keluarga tersebut tidak percaya dan menganggap keluarga korban hanya menyebarkan fitnah.
"Akhirnya setelah tidak terima atas informasi itu dia (tiga keluarga sekampung dengan korban) juga mendesak anaknya juga. Anaknya mengaku juga (telah jadi korban HW)," kata dia.
Setelah mengetahui hal tersebut, orang tua korban berkonsultasi ke LBH Serikat Petani Pasundan (SPP). Berdasarkan kronologis yang diterimanya, Yudi menilai hal tersebut telah mencukupi unsur kejahatan dan pidana.
"Karena kalau minta pertanggungjawaban untuk dinikahi enggak mungkin karena korban banyak. Kalau hanya satu orang masih mungkin bisa, kalau banyak ini sudah kejahatan," jelas dia.
Pondok pesantren di Bandung, Jawa Barat tengah jadi perbincangan hangat publik karena salah satu tenaga pendidiknya diduga mencabuli para santriwati di bawah umur.
Bahkan dilaporkan, dari belasan santriwati yang disetubuhi paksa tersangka, telah lahir sejumlah bayi tanpa dinikahi oleh oknum guru tersebut.
"Yang sudah lahir itu ada delapan bayi. Kayaknya ada yang hamil berulang. Tapi saya belum bisa memastikan," kata Kepala Seksi Penerangan dan Hukum (Kasipenkum) Kejati Jabar Dodi Gozali Emil.
Sidang dakwaan terdakwa HW diketahui berlangsung sejak 11 November 2021. Jaksa penuntut umum membeberkan bahwa terdakwa telah melakukan pencabulan terhadap para santriwati di bawah umur dalam rentang waktu 2016-2021.
Kasus ini juga menjadi perhatian Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil. Dia sangat geram terhadap ulah HW (36) yang memperkosa belasan santriwati, hingga sembilan santri di antaranya telah melahirkan.
"Pelaku sudah ditangkap polisi dan sedang diadili di pengadilan. Semoga pengadilan bisa menghukum seberat-beratnya dengan pasal sebanyak-banyaknya kepada pelaku yang biadab dan tidak bermoral ini," kata Ridwan Kamil dalam keterangan tertulis, Kamis 9 Desember 2021.
Ridwan Kamil memastikan, santriwati yang menjadi korban perkosaan di salah satu pesantren di Kota Bandung ini mendapatkan perlindungan dan pendampingan dari tim ahli
Syiah Atau ISIS
Belakangan, muncul dugaan bahwa HW adalah penganut Syiah. Tudingan ini banyak dibantah sejumlah buzzer di media sosial.
Penggiat media sosial, Denny Siregar, misalnya membagikan foto yang di dalamnya ada pria diduga Herry Wirawan. Dalam foto tersebut, Herry Wirawan diketahui bersama sejumlah pengurus Forum Komunikasi Pendidikan Kesetaraan Pesantren Salafiyah.
"Kasihan syiah, disalahkan terus kalo ada yang bejat2 untuk kaburkan identitas," tulis Denny Siregar.
Hal yang sama juga dibagikan aktivis Nahdlatul Ulama (NU) sekaligus politisi PSI, Muhammad Guntur Romli.
Dia juga ikut mengungkap bukti yang menyebut bahwa HW bukanlah seorang yang bermazhab Syiah.
Pria yang akrab disapa Gun Romli itu melalui cuitannya di Twitter, mengungkap bahwa Herry Wirawan adalah Ketua Forum Komunikasi Pendidikan Kesetaraan Pesantren Salafiyah. Dia lantas menyebut, tidak ada seorang penganut mazhab Syiah yang memakai istilah 'Salafiyah'.
Maka itu, tidak benar kata dia jika HW merupakan seorang muslim Syiah, sia (HW) adalah Ketua Forum Komunikasi Pendidikan Kesetaraan Pesantren Salafiyah.
"Mana ada Syiah pakai istilah Salafiyah," cuitnya dikutip Hops.ID pada Jumat 10 Desember 2021.
Dalam cuitannya, Gun Romli juga melampirkan sebuah artikel berita soal pengukuhan pengurus Forum Komunikasi Pendidikan Kesetaraan Pesantren Salafiyah, di mana terdapat potret HW di dalamnya.
HW tampak berdiri di barisan depan dengan mengenakan peci hitam sembari memegang map hijau. Kemudian, Gun Romli mengatakan bahwa praktik memperkosa atau mencabuli tanpa pernikahan yang dilakukan HW persis dengan praktik 'milkul yamin' yang dilakukan ISIS. Kelompok ISIS sendiri, seperti diketahui, menentang Syiah.
Terlepas ajaran apa yang dianutnya, HW tetaplah seorang moralis, pendidik yang harusnya memberikan ilmu kebaikan terhadap murid-muridnya.
Bangsa ini sedang darurat moral, moralis.



Popularitas Film Adaptasi Game dan Komik Meningkat, Penonton Global Semakin Antusias
Riaubook.com-Industri film global terus mengalami perkembangan yang signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Salah satu tren yang semakin menonjol adalah meningkatnya…