RIAUBOOK.COM - Akibat sarana pelabuhan barang belum memadai, para pengusaha angkutan kapal barang di Kabupaten Kepulauan Meranti, Riau, melakukan kegiatan bongkar muat barang dibelakang ruko.
Artinya berbagai ruko yang terletak persis di tepi pantai Selat Rengit dijadikan sebagai pintu masuk dan keluar barang dagangan.
Pantauan Riaubook.com di Selatpanjang, seperti beberapa ruko di Jalan Tebingtinggi hingga ke wilayah Jawi Jawi sejak lama dijadikan sebagai pelabuhan pribadi.
Kegiatan bongkar muat kapal barang tersebut, sangat dimungkinkan terjadinya pelanggaran hukum. Apalagi kegiatan bongkar barang tersebut tanpa pengawasan dari instansi teknis terkait.
Banyaknya ditemukan peredaran narkoba di Selatpanjang, ditengarai karena banyaknya pelabuhan tikus bahkan merata di berbagai pulau.
Masyarakat Meranti berharap agar pemerintah bertindak untuk melakukan penertiban.
Seperti mengadakan pemusatan bongkar muat barang. Sehingga seluruh kapal barang yang akan dibongkar di Meranti bisa terpantau oleh petugas.
Demikian diungkapkan Ketua LSM Laskar Melayu Bersatu Riau (LMBR) Zul Arman kepada awak media ini Jumat pagi (18/5/18) di Selatpanjang.
Pak Man, panggilan akrab Datuk Panglima Muda LMBR Kepulauan Meranti itu sangat khawatir maraknya peredaran narkoba di Meranti karena sarana dan prasarana pelabuhan yang masih sangat minim. Ditambah lagi dengan minimnya petugas di lapangan sehingga upaya pemberantasan peredaran barang haram tersebut cukup sulit dilakukan.
Namun demikian tambah dia, petugas yang ada tidak boleh menyerah atas berbagai keterbatasan tersebut, sehingga jaringan narkoba tidak terlalu leluasa melakukan aksinya.
"Kita berharap baik pusat, provinsi terutama daerah agar mengupayakan tindakan penyelamatan generasi bangsa melalui penyempitan ruang gerak para pelaku peredaran narkoba dimaksud. Sebab pemerintah memiliki power yang kuat untuk memutuskan mata rantai peredaran salah satunya dengan mengoptimalkan peran atau kehadiran negara dalam kegiatan bongkar muat barang tersebut," kata Arman.
Salah seorang petugas yang tidak bersedia ditulis namanya kepada Riaubook.com mengaku sejak lama keluhan atas keberadaan pelabuhan yang minim di Meranti sudah berkali kali diungkapkan.
Namun menurut dia, hingga saat ini pemerintah daerah belum mampu menjawabnya.
Dikatakan dia lagi, dalam misi pembangunan Meranti yang mengatakan akan menjadikan Meranti sebagai daerah perdagangan yang maju, hingga saat ini sudah mau 10 tahun lagi usia Kabupaten Kepulauan Meranti.
"Namun harapan manjadikan daerah ini menjadi daerah peregangan yang maju kita lihat baru hanya sebatas retorika. Terbukti dengan keberadaan pelabuhan yang ada hanya dimiliki PT Pelindo saja," kata petugas ini.(RB/jos)


Popularitas Film Adaptasi Game dan Komik Meningkat, Penonton Global Semakin Antusias
Riaubook.com-Industri film global terus mengalami perkembangan yang signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Salah satu tren yang semakin menonjol adalah meningkatnya…