RIAUBOOK.COM - Sebelum terjadinya penyerangan sekolompok terduga teroris pada Rabu (16/5/2018) di Mapolda Riau, Kepala Badan Intelijen Daerah (Kabinda) Riau Marsma Rakhman Haryadi mengatakan, orang atau kelompok teroris tidak melihat tingkat pendidikan dalam melakukan perekrutan anggota.
"Mau bapak serorang Profesor, selagi mereka bisa menggaet, maka bapak akan kena, ibu akan kena, saudara-saudara atau anak-anak kita akan kena, lihat Dr. Azhari, seorang profesor teroris, dia berpengetahuan yang luas, jadi kalau dibilang teroris adalah orang bodoh, salah," kata Kabinda saat melakukan rapat kordinasi pencegahan terorisme bersama para tokoh agama dan unsur Forum Pimpinan Komunikasi Daerah (Forkopimda) setempat di Gedung Daerah (15/5/2018) di Gedung Daerah, Pekanbaru.
Kabinda juga mengatakan, terkadang masyarakat lupa dan kerap merasa lebih hebat dari yang lain.
"Kadang kita merasa lebih hebat dari yang lain, saya ahli ini dan sebagainya, tapi tidak akan berguna kalau keahlian itu kalau tidak diperlukan oleh orang lain, makanya kita manfaatkan keahlian kita untuk kepentingan yang lebih banyak lagi dan untuk membantu orang yang lebih banyak lagi," tuturnya.
Kabinda mengatakan, sepengalamannya selama hampir tiga setengah tahun di Paksitan dan Afganistan, para teroris memiliki tujuan.
"Apakah para teroris ini memiliki tujuan yang sama atau hanya sebagai alat, siapa yang bisa menjawab?, yang perlu kita jawab, kita harus siap menghadapi mereka kapanpun dan dimanapun mereka berada," tutur dia.
Sayangnya, belum sampai 24 jam setelah rapat kordinasi tersebut, serangan teroris malah terjadi di markas institusi penegak hukum Riau, serangan yang terjadi di Mapolda Riau mengakibatkan gugurnya Insan Bhayangkara Ipda. Auzar dan melulai dua orang aggota polisi lainnya. (RB/Dwi)


Popularitas Film Adaptasi Game dan Komik Meningkat, Penonton Global Semakin Antusias
Riaubook.com-Industri film global terus mengalami perkembangan yang signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Salah satu tren yang semakin menonjol adalah meningkatnya…