RIAUBOOK.COM - Oleh Padli AR (Ketua KAMMI Wilayah Riau)
Sebagai pemuda Riau dan juga merupakan aktivis mahasiswa yang mencoba independen dari partai politik, saya ingin menyampaikan pendapat saya terkait kondisi permainan politik di tanah melayu Riau saat ini. Sebagaimana kita ketahui bersama, saat ini PDI-P telah mengambil keputusan untuk mendukung Andi Rahman maju sebagai calon Gubernur Riau selanjutnya dengan berkoalisi bersama Golkar.
Keputusan PDI-P mendukung Andi Rahman menambah keyakinan petahana melangkah mantap sebagai calon Gubernur Riau. Sebelumnya Golkar sudah terlebih dahulu declare. Koalisi kuning-merah ini sudah memastikan Andi Rahman maju sebagai calon gubernur, gabungan kursi sudah lebih dari cukup (22 kursi).
Setali dua tiga uang, banyak pihak yang merespon positif atas dukungan ini, terutama tim yang sudah dibentuk Andi Rahman. Namun, tidak dapat dipungkiri banyak juga yang menyayangkan sikap poltik Andi Rahman. Alasannya adalah sebagaimana kita ketahui bersama, bahwasanya PDI-P merupakan partai yang diklaim sebagai musuh bersama terutama di kalangan umat islam, karena persoalan-persoalan yang telah terjadi ssbelumnya. Dan khususnya pun di Riau yang sangat identik dengan nilai-nilai melayu serta islam yang kental, sehingga dampak akan Andi Rahman yang didukung oleh PDI-P pun menuai kontra dari kalangan-kalangan tertentu.
Politik itu berbicara tentang kepentingan, kekuasan, dan juga strategi yang mesti sesuai dengan kondisi keadaan di suatu tempat yang bersifat fleksibel, mungkin saat ini ada kalangan yang tidak menyukai partai "merah" ini, tapi mungkin sebagian besar banyak menyukai Andi Rahman maka kemungkinan-kemungkinan itu bisa saja terjadi, sebagian sisi ada yang menyayangkan akan sikap Andi Rahman, dan koalisi merah-kuning ini ada kalangan yang melihat sinis, tapi kita tidak tahu kedepan apakah partai lainnya pun ikut masuk ke dalam big koalisi.
Tidak ada yang tidak mungkin di dalam politik, semua bisa saja terjadi. Lobi politik masih berjalan sampai pendaftaran calon Gubernur ( 8-10 januari 2018). Koalisi Golkar-PDIP masih bisa bertambah seiring waktu, Partai islam pun bisa ikut dalam big koalisi ini, PKS, PPP, PAN dan PKB. Kalau saya melihat, sebenarnya PDIP lah yang cepat bergerak menggaet calon, sehingga ia berada dalam mendukung Andi Rahman, jika nanti partai islam lainnya "ikut" dalam koalisi, maka apa boleh buat, politik itu sangat fleksibel. Seperti kita ketahui bersama, meskipun PDIP "musuh bersama" secara nasional, namun PDIP mendapat dukungan di Jatim dari salah satu partai Islam.
Seperti yang saya katakan, posisi PDIP ini melangkah lebih cepat dalam mendukung Andi Rahman, karena mereka tahu, Andi Rahman adalah sosok yang disukai masyarakat Riau, maka tak ada salah bagi partai ini mendukung Andi Rahman, dan kondisi dukungan PDPI kepada Andi Rahman tentu sebuah "hal yang dibutuhkan" oleh Andi Rahman secara politik, terlepas dari dampak nasional kasus "penistaan agama", kita mesti mengetahui bersama, politik itu strategi, kepentingan dan kekuasaan dan semua keputusan kepentingan itu bersifat fleksibel yang tentunya akan berbeda dengan keputusan untuk daerah lainnya. Bisa jadi kondisi koalisi di Jatim, juga terjadi di Riau, kita manatahu.
Dan kita juga belum bisa pastikan, apakah benar koalisi Gerindra-PAN-PKS terwujud di Riau atau ikut dalam dinamika yang terus berkembang. Bisa jadi Andi Rahman yang hari ini sudah menjadi juru bicara Golkar dan PDIP akan mengajak partai-partai islam untuk rekonsiliasi menyatukan persepsi bahwa mereka tetap bisa bergabung dengan koalisi besar dua partai ini. Karena politik itu kepentingan dan sangat fleksibel. Setiap hari, bahkan dalam hitungan jam bisa berubah sesuai dengan kebutuhan dan situasi yang dihadapi.
Setiap Politisi yang menjadi pengurus partai politik tentu mempunyai cara pandang tersendiri dalam menentukan dukungan terhadap calon Gubernur yang mana saja, yang mana bisa jadi, cara berfikir mereka dengan kita tidak sama dan "tidak masuk" kepada kita sebagai "orang awam" yang non politisi ini. Hari ini mungkin mereka masih ragu mendukung, namun esok, tiada yang tahu.
Jika seandainya kemungkinan itu terjadi (PDIP-Golkar ditambah sebagian partai islam) maka kita akan berada dalam ruang kebingungan. Menolak PDIP tetapi didalamnya ada partai yang elukan sebagai oposisi. Maka, bagi saudara-saudara yang anti PDI-P dan koloninya silahkan lakukan komunikasi politik dengan partai-partai lain, jika mampu, untuk tetap konsisten (oposisi penista agama) dan ikut serta membangun public opinion supaya masyarakat tetap setia.
Namun, PDIP melalui Andi Rahman tentu juga akan melakukan lobi-lobi politik dengan partai islam dan juga menyampaikan kepada masyarakat sebagai partai yang peduli dengan tanah melayu dan cinta dengan islam. Dua kelompok ini akan berupaya sekuat mungkin mendapatkan trust dari masyarakat Riau, berhasil ataupun tidak hanya bisa dilihat pada perhitungan suara nanti. Dan pembuktian akan kasus nasional juga akan terlihat pada hasil akhir perhitungan suara, apakah masyarakat Riau menjadikan Jakarta sebagai tolok ukur? Selamat berdemoeditor. (RB/yopi)
Follow News : Riau | Kampar | Siak | Pekanbaru | Inhu | Inhil | Bengkalis | Rohil | Meranti | Dumai | Kuansing | Pelalawan | Rohul | Berita Riau


Popularitas Film Adaptasi Game dan Komik Meningkat, Penonton Global Semakin Antusias
Riaubook.com-Industri film global terus mengalami perkembangan yang signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Salah satu tren yang semakin menonjol adalah meningkatnya…