RIAUBOOK.COM - Peredaran narkotika dan obat terlarang terbukti masih begitu bebas di Pekanbaru, sebagian korban zat haram itu pun kini mendekam di balik jeruji sebagai pasien Instalasi Narkotika, Alkohol, Psikotropika, dan Zat Adiktif lainnya (Napza) Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Riau.
Gedung sayap RSJ Riau itu, Sabtu (7/12/2019) sore, pukul 15.30 WIB terlihat penuh sesak pengunjung. Raut wajah mereka tanpak merona, sebagian menangis haru memeluk kerabat, suami, anak, dan adik tercinta dalam buai angan sehat seperti sedia kala.
"Mereka adalah korban-korban Kampung Dalam," kata Net, seorang konseling untuk pemulihan para korban napza.
Net menjelaskan, saat ini ada lebih 35 orang pasien Instalasi Napza RSJ Riau. Sebagian besar adalah kalangan remaja dan lajang berusia antara 16 sampai 26 tahun.
Dia menjelaskan, Instalasi Napza dikhususkan untuk membina dan merawat para korban narkoba dengan biaya yang sepenuhnya ditanggung oleh negara.
"Sekitar Rp12 juta dana perawatan per pasien selama 3 bulan pemulihan itu ditanggung negara, ini adalah program yang sudah berjalan sejak beberapa tahun terakhir," kata Net.
Untuk mendapat pasilitas rehabilitas di RSJ, Net menjelaskan ada beberapa tahapan yang harus dilalui, salah satunya adalah melakukan uji wawancara kepada korban.
"Saat itulah ketahuan, dari pengakuan rata-rata pasien, mendapatkan narkotika terutama sabu-sabu dari Kampung Dalam," lanjut Net.
Kempung Dalam adalah nama sebuah kawasan di tengah Kota Pekanbaru, tepian Sungai Siak.
Kawasan ini padat pemukiman penduduk yang selama ini juga dikenal sebagai kawasan paling 'angker' peredaran barang haram.
Wilayah yang juga dikenal sebagai perkampungan narkoba ini sebelumnya sudah beberapa kali digerebek aparat, namun tetap saja menjadi kawasan yang paling ramai kabar peredaran narkoba hingga saat ini.
Sementara itu sebelumnya Kombes Pol Suhirman, Direktur Ditresnarkoba Polda Riau, didampingi Kabid Humas, Kombes Pol Sunarto dan Wadir Resnarkoba AKBP Christian Rony Putra menyatakan bahwa tidak ada namanya kampung Narkoba di Kota Pekanbaru.
Dia bahkan memastikan bahwa kehidupan masyarakat di tepian Sungai Siak itu berjalan normal sebagaimana mestinya sesuai dengan profesi masing-masing dan tidak terlihat aktifitas yang mengganggu Kamtibmas.
"Saya nyatakan tidak ada kampung narkoba di Kota Pekanbaru ini, kenapa demikian seluruh daerah mana yang dianggap rawan Kamtibmas saya bersama anggota reserse narkoba melakukan patroli," kata dia kepada wartawan saat melakukan ekspose hasil Operasi Antik Muara Takus 2019, di Bid Humas Polda Riau Jalan Bima Pekanbaru, pada Kamis (5/12/2019).
Dia mengatakan, bahwa pada Jumat (29/11/2019) sekitar sepekan yang lalu Polda Riau dan jajaran telah melaksanakan kegiatan olahraga dengan menyisiri pinggir Sungai Siak hingga Jembatan Leighton IV Pekanbaru.
"Ternyata semua daerah yang sibuk dengan pekerjaan sehari-hari yaitu masalah perdagangan dan sebagainya, dan kegiataan tersebut ada dokumentasinya masih ada videonya" dia berujar.
Namun pengakuan berbeda malah datang dari para pasien napza di RSJ Riau di Kecamatan Tampan, Pekanbaru.
"Beli narkoba apa saja di Kampung Dalam seperti beli kacang goreng, bahkan ada fasilitas tempat bagi pelanggan," kata Joni, pasien rehabilitas.
Bukan hanya Joni, terdapat lebih 30 pasien yang saat ini mendekam di jeruji panti rehabiitasi Instalasi Napza RSJ Riau yang mengakui begitu akrab dengan kawasan 'kampung narkoba'.
"Mereka menunggu sadar setelah terlanjur sakit kejiwaannya akibat mengonsumsi narkoba secara terus menerus," lanjut Net.
Dia mengatakan, narkotika dan obat terlarang jika digunakan atau dikonsumsi secara rutin akan mengakibatkan gangguan psikis yang parah hingga kegilaan.
"Kita (negara) sebenarnya sudah darurat narkoba," demikian Net. (rb)


Popularitas Film Adaptasi Game dan Komik Meningkat, Penonton Global Semakin Antusias
Riaubook.com-Industri film global terus mengalami perkembangan yang signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Salah satu tren yang semakin menonjol adalah meningkatnya…