RIAUBOOK.COM - Bank Indonesia Kantor Wilayah Riau menginisiasi dimanfaatkannya dana wakaf masyarakat untuk instrumen ekonomi di Riau, guna menjadi alternatif penopang pertumbuhan ekonomi yang sembilan tahun terakhir terpuruk.
"Data dari Badan Amil Zakat (BAZ) Riau, potensi zakat setempat pertahunnya mencapai Rp1,2 triliun," kata Kepala BI Kantor Wilayah Riau, Decymus pada acara sosialisasi peran wakaf dalam perekonomian daerah, bertempat di aula lantai 3 Kantor Bank Indonesia Perwakilan Riau, Selasa (30/4/2019) di Pekanbaru.
Dalam kesempatan kali ini, Bank Indonesia perwakilan Riau menghadirkan 2 orang nara sumber berkompeten yakni Rifki Ismal yang merupakan Doktor Syariah dari Bank Indonesia. Selain itu, juga hadir Qoyunawar selaku Sekretaris Badan Wakaf Indonesia (BWI) Riau. Adapun peserta yang diundang dalam sosialisasi ini, sejumlah perwakilan mahasiswa dari Fakultas Syariah dan perbankan syariah yang ada di Pekanbaru.
Decymus menjelaskan sementara sejauh ini pemanfaatan dana zakat masih kurang dari Rp500 miliar. Penyebab tidak tersentuh karena konsep wakaf dan zakat tadinya belum berkembang.
Misalkan seseorang punya zakat Rp 100 juta masih sulit mencari orang sekitar yang akan mengabiskan, karena tenaga profesional yang mengelola belum ada.
Untuk itu dengan pemahaman yang sama bersama pemprov, sebut Decymus dana tersebut bisa didorong membantu ekonomi masyarakat. BI dalam hal ini sebagai fasilitator, mencoba menyosialisasikannya ke semua unsur.
Mengingat pertumbuhan ekonomi Riau yang cenderung melambat dari 2010 hingga kini, akibat ketergantungan yang semakin tinggi pada minyak kelapa sawit dan migas.
Jika hal ini dibiarkan ekonomi Riau melambat dan daya beli turun terus, hingga bisa mengancam kesejahteraan rakyat, maka BI perlu membangkitkan lagi sumber ekonomi baru lepas dari ketergantungan sawit.
Misalkan sektor perkebunan, yang 50 persennya milik rakyat perlu di data, agar proses replanting bisa dibantu modal. Sektor perdagangan juga sambung pria yang baru sebulan menjabat KPBI Riau itu walau lumayan tumbuh di Pekanbaru, real estate, perikanan, dan sebagainya butuh modal investasi.
" Intinya sektor yang banyak orang mencari makan kita dorong permodalannya, agar timbul ekonomi baru itu gak susah, tak butuh tahun yang lama cukup kebijakan pemerintah saja," tegas dia.
Jadi hubungannya dengan zakat dan wakaf, untuk menggerakkan sektor itu semua butuh modal, lewat dana wakaf maka bisa diberdayakan, Sebab, lanjut Deacymus, jika menanti APBD ditengah merosotnya Dana Bagi Hasil (DBH) tidak mencukupi.
Makanya sosialisasi ini bertujuan membuka pemahaman yang sama dan luas terkait upaya pemanfaatkan zakat dan wakaf, serta
tindaklanjut untuk pelaksanaannya di lapangan. Karena seiring waktu wakaf dan zakat berkembang.
"Contoh, dulu wakaf barang saja, kini boleh uang, hanya harus dikelola oleh nazir dan uang itu hasilnya di berikan sebagai bantuan bergulir ke masyarakat. Bisa juga digunakan untuk membangun sarana prasarana," demikian Decymus. (RB/Ver)



Riau Pesisir: Merancang Garis Depan Kemakmuran
SAYA menulis catatan ini bukan dari ruang seminar, tapi dari jalan lintas ke Dumai yang hampir tiap pekan saya lewati.…