RIAUBOOK.COM - Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau bersama Program 'Imbau' menggelar talkshow dan workshop Pengelolaan Suaka Margasatwa Bukit Baling Berbasis Masyarakat Selasa-Rabu (30-31/10/18).
Kegiatan ini bertujuan untuk mewujudkan dukungan dan partisipasi aktif para pihak khususnya masyarakat di dalam dan sekitar Suaka Margasatwa Bukit Rimbang Bukit Baling untuk kelestarian bentang alam Rimbang Baling.
Sedikit berbeda dengan pelaksanaan workshop biasanya, kegiatan ini diisi dengan talkshow bertema Menjawab Tantangan Pengelolaan Terintegrasi Rimbang Baling. Empat pembicara kunci yakni Kepala BBKSDA Riau, Ketua Bappeda Riau, Bupati Kampar, Bupati Kuantan Singingi, dan Raja Gunung Sahilan akan memaparkan pemikirannya mengenai pengelolaan terintegrasi kawasan konservasi Suaka Margasatwa Bukit Rimbang Bukit Baling (SM BRBB).
SM BRBB yang terletak di Kabupaten Kampar dan Kuantan Singingi ditunjuk menjadi kawasan konservasi sejak tahun 1984 melalui SK Gubernur Riau dengan luas 136.000 ha. Selanjutnya ditetapkan oleh Menteri Kehutanan, dan dikeloka oleh Balai Besar Konservasi Sumberdaya Alam Riau sebagai Unit Pengelola Teknis KemenLHK. Pada tahun 2014, kawasan ini ditetapkan berdasarkan SK Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan dengan luas 141.226 ha.
Sebelumnya (hingga tahun 2010) pengelolaan kawasan ini minimal dikarenakan berbagai keterbatasan pengelola diantaranya hanya ada dua petugas jagawana yang bekerja penuh waktu khusus untuk kawasan ini.
Pada hal Bentang alam Rimbang Baling merupakan kawasan strategis di tengah Sumatera yang menjadi tempat hidup beragam jenis satwa dan tumbuhan langka, serta menjadi habitat kunci harimau Sumatera.
Berada di bagian barat daya Provinsi Riau dengan sebagian wilayahnya mencakup Provinsi Sumatera Barat, wilayah ini juga merupakan hulu dan daerah tangkapan air utama di Sumatera bagian tengah. Bagian inti dari bentang alam ini adalah Suaka Margasatwa Bukit Rimbang Bukit Baling.
Bentang alam Rimbang Baling merupakan kawasan prioritas global untuk konservasi harimau. Untuk mendukung komitmen pemimpin negara pemilik harimau pada tahun 2010 dalam Pertemuan Puncak untuk Harimau (Tiger Summit) di Rusia maka salah satu upaya yang dilakukan adalah upaya konservasi harimau terintegrasi. Salah satu implementasi kegiatan terintegrasi tersebut adalah pelaksanaan upaya perlindungan harimau dan habitatnya yang terintegrasi di Rimbang Baling dengan mengedepankan peran aktif masyarakat.
Sejak tahun 2015 didukung oleh IUCN (Badan Konservasi Dunia) dan KWF (Bank Pembangunan Jerman) upaya konservasi habitat harimau yang terintegrasi di Rimbang Baling dimulai melalui Program IMBAU. IMBAU merupakan konsorsium WWF, YAPEKA, INDECON bekerjasama dengan Balai Besar Konservasi Sumber Daya ALam Riau melaksanakan program untuk mendukung peningkatan efektivitas pengelolaan populasi dan habitat harimau dengan mengutamakan keterlibatan dan dukungan multi-pihak melalui tiga komponen, yakni perlindungan terintegrasi dan monitoring, dukungan untuk pengelolaan kawasan yang lebih efektif; dan keterlibatan serta pemberdayaan masyarakat dan pemangku kepentingan lainnya melalui pendekatan co-benefit. (MCR/mtr)



Popularitas Film Adaptasi Game dan Komik Meningkat, Penonton Global Semakin Antusias
Riaubook.com-Industri film global terus mengalami perkembangan yang signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Salah satu tren yang semakin menonjol adalah meningkatnya…