Oleh: Wira Atma Hajri, S.H., M.H
Sebagai alumni pondok pesantren, tentu saja saya tidak asing dengan hadis-hadis Nabi. Dari sekian banyaknya hadis-hadis itu, salah satu hadis yang begitu menjadi perhatian dari saya adalah hadis mengenai kecaman bagi orang-orang yang menzhalimi orang lain. Lengkapnya hadis itu menyatakan begini.
"Tahukah kalian (sahabat, Penulis) siapakah orang yang bangkrut itu? Mereka menjawab: orang yang bangkrut di kalangan kami adalah orang yang tidak memiliki dirham dan tidak pula memiliki harta. Rasulullah bersabda: Sesungguhnya orang yang bangkrut dari umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan membawa pahala shalat, puasa, dan zakat. Namun ia juga datang dengan membawa dosa kezhaliman. Ia pernah mencerca si ini, menuduh tanpa bukti terhadap si itu, memakan harta si anu, menumpahkan darah orang ini dan memukul orang itu. Maka sebagai tebusan atas kezhalimannya tersebut, diberikanlah di antara kebaikannya kepada si ini, si anu dan si itu. Hingga apabila kebaikannya telah habis dibagi-bagikan kepada orang-orang yang dizhaliminya sementara belum semua kezhalimannya tertebus, diambillah kejelekan (dosa, Penulis) yang dimiliki oleh orang yang dizhaliminya lalu ditimpakan kepadanya, kemudian ia dicampakkan ke dalam neraka". (HR. Muslim)
Karena itu, mari kita saling mengingatkan. Sebab, dampaknya bukan main. Dampaknya begitu dahsyat. Saya takut dibuatnya.
Saya ingin mengingatkan, sebagai dosen, dan ini tentunya juga buat saya pribadi, berapa banyak mahasiswa yang telah kau zhalimi? Berapa banyak mahasiswa kau persulit? Ingat, tegas dan mendidik dengan mempersulit adalah hal yang berbeda. Gaji kau terima juga, namun kau tak didik mereka secara serius. Bukan menuduh, saya hanya mengingatkan. Sebab, setiap kita berpotensi untuk itu.
Saya ingin mengingatkan, sebagai polisi, berapa banyak orang-orang yang telah kau zhalimi? Berapa banyak kau tersangkakan orang untuk ambisimu dan ambisi kelompok tertentu? Orang yang tak bersalah kau tersangkakan. Orang yang bersalah kau tak tersangkakan. Bukan menuduh, saya hanya mengingatkan. Sebab, setiap kita berpotensi untuk itu.
Saya ingin mengingatkan, sebagai jaksa, berapa banyak orang-orang yang telah kau zhalimi? Berapa banyak penegakan hukum sesuka hati yang kau jalankan? Berapa banyak orang kau buat "ATM". Berapa banyak hukum yang kau permainkan? Bukan menuduh, saya hanya mengingatkan. Sebab, setiap kita berpotensi untuk itu.
Saya hanya ingin mengingatkan, sebagai hakim, berapa banyak orang-orang yang telah kau zhalimi? Berapa banyak putusan yang kau keluarkan sehingga merusak masa depan seseorang? Berapa banyak anak-anak yang kau buat "yatim" akibat putusanmu itu? Bukan menuduh, saya hanya mengingatkan. Sebab, setiap kita berpotensi untuk itu.
Saya ingin mengingatkan, sebagai pemilik media (cetak maupun elektronik), berapa banyak orang-orang yang kau zhalimi? Berapa banyak fitnah yang kau layangkan melalui koran yang kau kuasai itu? Berapa banyak karakter orang yang kau bunuh melalui televisi di bawah kepemilikanmu itu? Betapa banyak berita pesanan yang kau angkat sehingga orang-orang begitu percaya dengan pemberitaan itu? Bukan menuduh, saya hanya mengingatkan. Sebab, setiap kita berpotensi untuk itu.
Saya ingin mengigatkan, sebagai penulis, berapa banyak orang-orang yang kau zhalimi? Berapa banyak kau sebarkan informasi hoax? Kau buat orang percaya dengan bukti yang kau buat-buat. Bukan menuduh, saya hanya mengingatkan. Sebab, setiap kita berpotensi untuk itu.
Saya hanya ingin mengigatkan, sebagai penguasa, berapa banyak orang-orang yang telah kau zhalimi? Berapa banyak kebijakan yang kau keluarkan sehingga rakyatmu semakin-semakin menderita? Dulu kau berjanji, nyatanya, lain di mulut dan lain pula yang kau jalankan. Bukan menuduh, saya hanya mengingatkan. Sebab, setiap kita berpotensi untuk itu.
Terakhir, tak dapat saya sebutkan satu-satu, apapun kita, saya ingin mengingatkan siapa saja, bahwa jangan pernah kau zholimi orang. Percuma shalat, sebab pahalanya untuk orang. Percuma puasa, tapi pahalanya bukan buat kita. Dan seterusnya. Bukan menuduh, saya hanya mengingatkan. Sebab, setiap kita berpotensi untuk itu.
Tentang Penulis
Wira Atma Hajri, lahir di Bangkinang (Riau), 11 Maret 1990. Penulis adalah lulusan Pondok Pesantren Daarun Nahdhah Thawalib Bangkinang (2008). Beberapa kali Penulis menyandang predikat sebagai juara umum di pondok pesantren tersebut. Meraih gelar Sarjana Hukum dari Departemen Ketatanegaraan Fakultas Hukum Universitas Islam Riau (UIR) sebagai lulusan terbaik (2012), dan Magister Hukum dari departemen yang sama di Universitas Islam Indonesia Yogyakarta dengan predikat kelulusan 'Dengan Pujian' (Cumlaude) dalam waktu 13 bulan (2013). Saat ini adalah Dosen Tetap Yayasan Lembaga Pendidikan Islam Riau pada Fakultas Hukum UIR. Di samping itu juga dipercayakan oleh Rektor UIR sebagai Pengelola UIR Press. Penulis bergabung dengan lembaga dakwah Majelis Dakwah Islamiyah Kota Pekanbaru dengan Nomor Indeks/Keanggotaan 629 (2009-sekarang).
Follow News : Riau | Kampar | Siak | Pekanbaru | Inhu | Inhil | Bengkalis | Rohil | Meranti | Dumai | Kuansing | Pelalawan | Rohul | Berita Riau



Popularitas Film Adaptasi Game dan Komik Meningkat, Penonton Global Semakin Antusias
Riaubook.com-Industri film global terus mengalami perkembangan yang signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Salah satu tren yang semakin menonjol adalah meningkatnya…