Ahok, !

Riau Book - -- tulisan Novriantoni Kahar

Kalau tidak ada aral melintang atau kondisi force majeure menjelang Pilkada Gubernur DKI Jakarta 15 Februari 2017 nanti, saya akan tetap berada di sisi cahaya. Maksud saya, akan tetap memilih Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok alias pasangan Ahok-Djarot. Saya tak akan berpaling kepada selain cahaya walau ada secercah dari Universitas Paramadina tempat saya mengajar ataupun sebercak dari seorang putera mahkota Dinasti Cikeas.

Beberapa bulan lalu, saya sudah menyerahkan KTP saya kepada Ahok untuk modal dia maju lagi sebagai Gubernur Jakarta. Saya sayang bila sosok sebagus dia harus batal menjabat lagi hanya karena berbagai intrik partai politik. Saya mendukung dia maju lewat jalur independen dan ikut pula menjadi bagian dari lebih dari sejuta warga DKI yang ingin melihatnya terus bekerja untuk kebaikan ibukota.

Kecewakah kini saya tatkala beberapa partai politik malah membajak Ahok dari Teman Ahok dan "secara cuma-cuma" kembali mengusung dia? Tidak! Saya mengerti, partai-partai politik itu akhirnya terpaksa atau dipaksa keadaan untuk terasosiasi dengan kerja-kerja konkrit Ahok, atau kemungkinan mendapat efek elektoral dari mendukung orang berprestasi semacam Ahok di Pemuli 2019 nanti.

Ini mungkin tafsiran yang terlalu jauh. Mereka mungkin saja ingin menjinakkan Ahok agar kelak mendapat jatah proyek-proyek pembangunan DKI yang sangat menggiurkan itu. Ah, saya tak peduli dan itu bukan urusan saya! Yang penting, saya ingin tetap berada bersama cahaya yang selama ini terang sekali menyinari ibukota! Saya tidak percaya trik-trik partai politik, tapi saya berharap kelak mereka akan berubah, bukan Ahok yang justru berubah santun.

Terhadap politisi pun, saya—atau mungkin juga anda—tak perlu betul-betul percaya. Mereka tetaplah manusia-manusia yang dilingkupi banyak kepentingan, dan mungkin sekali dibalut kepalsuan, jadi tak perlulah diperlakukan seperti rukun iman yang harus dibela dengan darah dan airmata. Tapi sejauh yang saya teroka, Ahok minim kepalsuan. Dia terasa jauh dari palsu atau politisi yang memang apa adanya. Bagi saya, lebih mudah mengenal Ahok yang apa adanya itu ketimbang mengenal dua lawannya.

Karena itu saya akan tetap condong ke Ahok, sampai ada hal-hal tertentu yang memporak-porandakan pilihan hati saya. Untuk itu, agar lebih runut kenapa saya tetap condong kepada Ahok, saya akan menguraikannya ke dalam lima poin berikut.

Pertama, Ahok sudah bekerja, sekeras-kerasnya, sebagus-bagus yang dia bisa. Saya tidak mengenal Gubernur Jakarta yang bekerja sekeras dan sefenomenal Ahok, dan saya curiga Ahok tak punya waktu tidur yang cukup karena memikirkan dan menyelesaikan apa yang perlu ditata. Mungkin banyak juga orang Jakarta dan non-Jakarta yang coba mengingkari kenyataan ini karena berbagai faktor, tapi saya tak ingin menghianati mata dan otak saya.

Ada juga mungkin orang yang secara dulusional mengatakan bahwa karya-karya dan capaian-capaian Ahok itu tiada lebih hanya kelanjutan dari gubernur sebelumnya. Well, saya hanya ingin bilang: Anda sehat? Cobalah basuh muka dan pikiran anda, lalu bayangkan Jakarta kembali dipimpin oleh sosok seperti Fauzi Bowo alias Foke. Tada… terbayang kan hasilnya? Makanya, bangun, jangan ngelindur dan ngawur!

Kedua, kita perlu keberlangsungan. Kerja-kerja bagus perlu mendapatkan ucapan terima kasih dan saya ingin menjadi bagian dari masyarakat yang tahu berterima-kasih. Ini baik juga bagi demokrasi Indonesia karena pada hakikatnya demokrasi adalah mekanisme yang tepat untuk menghukum atau mengapresiasi pejabat negara yang bekerja dengan gigih dan sungguh-sungguh. Kerja bagus juga perlu keberlangsungan, bukan interupsi, sehingga tidak stagnan atau mundur ke belakang.

Nahdlatul Ulama alias NU punya dalil bagus di poin ini. Kaidah mereka bilang: kita harus menjaga kesinambungan untuk hal-hal yang baik. Al-muhafadzah ala al-qadim al-shalih. Mungkin anda segera protes, bagaimana penggalan kedua: wa al-akhzu bi al-jadid al-ashlah atau perlunya memilih hal baru yang lebih baik? Hm, saya sangat pro pada pandangan yang progresif ini, tapi sayangnya saya saat ini belum melihat sosok baru yang akan lebih baik dari Ahok dari sisi kinerja.

Saya tidak suka politisi yang terlalu pandai bersilat lidah dan atau lihai bermanis kata, atau yang malah datang dari dinasti politik yang kembali ingin bertahta. Ini membawa saya ke poin ketiga.

Ketiga, Ahok itu triple-minority. Ahok itu minoritas yang rangkap tiga. Dia Cina, bukan putera daerah Jakarta, non-Muslim pula. Tapi saya suka. Teman bule saya pun sangat suka kepada Ahok dan dia tergila-gila mengikuti sepak-terjangnya. Suatu ketika, dia pernah mengingatkan saya: Novri, Anda tak dapat menemukan sosok pemimpin seperti Ahok ini di seantero Asia Tenggara! Pandangan kawan bule saya itu mungkin benar, tapi bukan itu poin saya.

Saya berpandangan, dalam konteks kehidupan berdemokrasi, mungkin jauh lebih baik memilih seorang minoritas sebagai pejabat. Dengan statusnya sebagai minoritas, apalagi rangkap tiga macam Ahok, hanya semata-mata kinerja dan prestasi sajalah yang bisa menyelamatkannya dalam pengadilan kotak suara.

Saya berfirasat—dan ini belum ditunjang teori—pemimpin yang datang dari kalangan mayoritas—apalagi betul-betul dominan dalam segala segi—akan mampu dengan enteng mengabaikan mandatnya. Buat apa dia harus bertungkus-lumus mengurusi kepentingan masyarakat kalau toh dia sudah kuat dan mendapat sokongan dari berbagai penjuru mata angin?

Dalam kasus Ahok, dia harus bekerja mati-matian demi menepis persepsi keliru ataupun culas tentang dirinya. Dia harus membuktikan, walau dia Gubernur yang "belum sunat"—ini sesuatu yang tidak perlu saya cek—dia justru mampu berprestasi melebihi mereka-mereka yang sudah sunat dan aqil-baligh. Dia harus mati-matian meyakinkan warga Jakarta: walau Cina, dia justru orang yang mampu memaksa konglomerat ibukota untuk berkontribusi maksimal untuk pembangunan.

Saya tak ingin Ahok masuk Islam agar dia menjadi bagian dari mayoritas atau demi menepis ejekan kafir, antek asing ataupun aseng. Sekali dia melakukan itu, bagi saya dia tamat dan sudah masuk ke dalam perangkap kemunafikan. Dia palsu. Saya ingin Ahok yang apa adanya. Saya ingin Ahok yang "tetap kafir", tapi justru bisa membuktikan bahwa dia mampu berbuat lebih banyak daripada orang-orang beriman!

Keempat, membela visi demokrasi Indonesia ke depan. Melihat panasnya hawa persaingan Pilkada ibukota, hati saya benar-benar harap-harap cemas. Jika memantau berbagai komentar ataupun tulisan di berbagai media sosial, saya kadang membayangkan Indonesia esok hari akan jatuh menjadi negara gagal seperti Pakistan, Afghanistan, atau negara-negara gagal-demokrasi macam di Timur Tengah. Saya berdoa, semoga demokrasi Indonesia tidak mengarah ke sana, lebih dewasa dan kian matang dan teruji.

Terpilih atau gagalnya Ahok, bagi saya adalah salah satu ujian mentah-matangnya demokrasi Indonesia. Saya tak akan heran bila Ahok kalah karena statusnya sebagai triple-minority, tapi saya akan bangga dan berlonjak girang bila dia menang dengan statusnya yang demikian. Saya ingin melihat lebih banyak mukjizat demokrasi, sebagaimana Obama—kulit hitam, dituduh Muslim, kurang Amerika—tiba-tiba terpilih menjadi Presiden Amerika. Atau Sadiq Khan—asal Pakistan, Muslim, dituduh radikal—akhirnya menjadi Walikota London!

Kelima, saya ingin Ahok tetap menjadi jongos bagi warga Jakarta. Bagi saya, kita lebih baik memilih jongos yang akan membereskan berbagai problem yang kita punya ketimbang memilih motivator atau tuan ndoro yang ongkang-ongkang kaki saja menyuruh orang lain untuk bekerja. Saya ingin Ahok tetap menjadi jongos Jakarta, bukan pemimpin, apalagi imam bagi iman saya!

Saya ingin Ahok tetap menjadi jongos yang membereskan got-got Jakarta, membersihkan sungai-sungai, menambal aspal yang rusak atau jalan yang berlobang, merawat taman dan ruang-ruang terbuka hijau, mempercepat kinerja birokrasi, menyediakan tumpangan yang layak-lancar bagi kami tuan-tuannya, mengurai kemacetan lalu lintas ataupun otak sebagian kami.

Saya ingin Ahok tetap menjadi cahaya yang menyinari ibukota. Saya ingin Ahok tetap menjadi jongos yang membereskan sebagian problematika yang dihadapi kaum beriman dan tidak beriman!

Cotabato, 09 Oktober 2016

(dikutip dari FB Bang Tomi Lebang https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10208801305084586&id=1072002562)

Follow News : Riau | Kampar | Siak | Pekanbaru | Inhu | Inhil | Bengkalis | Rohil | Meranti | Dumai | Kuansing | Pelalawan | Rohul | Berita Riau

foto

Terkait

Foto

Pekanbaru Butuh Pemimpin Penebar Cinta Bukan Penebar Janji

PEMILIHAN Kepala Daerah (Pilkada) serentak tahap kedua dilaksanakan tahun 2017 mendatang, akan diikuti 101 daerah seluruh penjuru Indonesia, termasuk Kota…

Foto

Motor China, Becak Jakarta

MOTOR CINA, BECAK JAKARTA Riau Book - Kita mengenal dengan baik istilah mocin, motor cina. Lebih sepuluh tahun lalu, Indonesia…

Foto

Gerwani, Tarian Harum Bunga hingga Propaganda Pasca 65

Riau Book- Hingga saat ini, apa yang terjadi dibalik peristiwa G/30 S masih menjadi misteri yang sulit diungkapkan. Termasuk di…

Foto

Pembohongan Puluhan Tahun Dibalik Kekejaman Gerwani

Riau Book- Sainah, seorang gadis 17 tahun, menjadi sorotan media dua bulan setelah peristiwa penculikan dan pembunuhan tujuh perwira Angkatan…

Foto

Pilkada Pekanbaru, 'Pertarungan' Madani dan Bertuah, Menyusup 'Kuda Hitam'

Riau Book - 'Panas', kata ini layak untuk kondisi Pekanbaru, Ibu Kota Provinsi Riau saat ini jelang Pemilihan Umum Kepala…

Foto

Teka-teki Pilkada Kampar, Yang Muda Atau yang Tua?

Riau Book - Jelang Pemilihan Kepala Dearah Kabupaten Kampar, Riau, Komisi Pemilihan Umum (KPU) setempat telah membuka dan menerima pendaftaran…

Foto

Dalam Waktu Dekat STOK di Inhil Akan Alami Penambahan

Riau Book - Struktur Organisasi Tata Kerja Perangkat Daerah (SOTK) di Kabupaten Indragiri Hilir akan mengalami penambahan. Diungkapkan hal…

Foto

Masih Ingat Akil Mochtar?

Riau Book - Karirnya mentereng di semua ladang kehidupan. Di politik ia lama menjadi anggota DPR, di dunia akademik ia…

Foto

Singapura !

Riau Book - Pada sebentang peta dunia, Singapura hanyalah setitik noktah dan Indonesia adalah sejengkal skala. Dari ujung Papua…

Foto

7 Tanda Orang Mendekati Ajal atau Kematian

Riau Book - Sang pencipta selalu memiliki alasan ketika menghidupkan manusia dari zat paling hina, dan tentu semua yang hidup…

Foto

Kunjungan dan Ramah Tamah dengan Masyarakat Kemuning, AW di Elu-Elukan jadi Bupati Inhil

Riau Book - Kunjungi Kecamatan Kemuning belum lama ini, Abdul Wahid. MSI mendapat sambutan spesial dari masyarakat, hal itu tidak…

Foto

Uang Panai, Mahar? Mahal?

Riau Book - Uang Panai, saya tak paham bagaimana mengartikannya dalam khasanah Indonesia. Uang mahar perkawinan yang di dalamnya ada…

Foto

Ancaman Degradrasi Moral

Riau Book- Kemerdekaan dari pejajahan merupakan suatu keinginan dan cita-cita luhur dari Bangsa Indonesia. Proses mencapai kemerdekaan yang dipelopori…

Foto

Refleksi 71 Tahun Indonesia Merdeka: Secercah Harapan?

Riau Book- Tak di sadari usia Republik ini sudah memasuki umur ke 71 tahun. Usia yang sudah tua kalau kita…

Foto

Spirit Pengkaderan Mencetak Aktor Kebaikan

Riau Book- Lelaki lembut, dermawan, dan penyayang itu pun mulai mengajak orang-orang dekatnya untuk bergabung kejalan kebenaran yang telah…

Foto

Menagih Janji Jokowi, Riau Bebas Asap?

Riau Book- Negara Indonesia bukan lagi negara yang sehat, negara Indonesia saat ini adalah negara berpenyakit. Mengapa demikian? Sekian…

Foto

Pilkada Pekanbaru, Ajang Menyatukan Duo Kekuatan Golkar Lewat Ramli Walid-Irvan Herman

Riau Book - Partai Golongan Karya (Golkar) sempat terpuruk usai kekalahan pada Pilpres lalu, 'kehancuran' partai berlambang pohon beringin ditandai…

Foto

Licik, Perusahaan Asing "Mau" Curi Uang Negara Indonesia

Riau Book- Indonesia merupakan Negara dengan ladang investor asing terbesar saat ini, hampir di setiap daerah di Tanah Indonesia beranekaragam…

Foto

Mencuri Dalih Cost Recovery

Riau Book- Jelang berakhirnya masa kontrak PT Chevron Pasifik Indonesia diperkirakan akan hengkang dari bumi lancang kuning 2021 mendatang. Data…

Foto

(Dirgahayu RI 71) Dalam Bayang-bayang Asap!

Riau Book- Kebakaran Hutan dan Lahan di Sumatera, terutama di Provinsi Riau telah memasuki edisi baru. Lepas dari permasalahan…

Wisata dan Gaya Hidup

Foto

Tiga Pemenang Duta Muslimah Preneur Riau 2026 Resmi Terpilih, Siap Gerakkan Ekonomi Lokal

RIAUBOOM.COM - Pengurus Wilayah Ikatan Pengusaha Muslimah Indonesia (PW IPEMI) Provinsi Riau sukses menggelar puncak pemilihan Duta Muslimah…

Foto

Ini Cara Orang Pekanbaru Sambut Ramadan, SF Hariyanto: Dengan Hati Bersih Jiwa Lapang

RIAUBOOK.COM - Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Riau, SF Hariyanto, secara resmi membuka rangkaian perayaan tradisi Petang Belimau Kota Pekanbaru yang…

Foto

Tari Zapin 6 Ribu Peserta Pecah Rekor Dunia, Plt Gubernur: Riau Memilih Untuk Maju Tanpa Tercerabut

RIAUBOOK.COM - Sebanyak 6.000 penari menyatu dalam satu denyut nadi, mempersembahkan Tari Zapin Masal yang bukan sekadar tarian,…

Pendidikan