RIAUBOOK.COM - Datuk Seri Ulama Setia Negara Ustadz Abdul Somad (UAS) memberi nasihat kepada Sandiaga Salahuddin Uno diakhir prosesi adat Tepuk Tepung Tawar, Selasa (4/9/2019) di Balai Adat Melayu Riau, Jalan Diponegoro, Pekanbaru.
Mengenakan baju adat kebesaran Melayu, dengan suara lantang ia membacakan rangkaian kata yang sebelumnya telah ditulis ketika bertolak dari Kabupaten Siak ke Kota Pekanbaru melalui jalur udara.
Berikut beberapa penggalan nasihat UAS yang ditujukan kepada Sandiaga Uno.
"Sudahlah elok berparas rupa, hidup bertuah dan beragama.
Kalau tuah ada di raga, pasir digenggam jadi permata.
Hati tertawa merasa suka, baik pemudi atau pemuda, dari yang gadis sampailah janda, Sandiaga tuan bernama.
Cerdik pandai alim ulama, lebih tinggi seranting lada, lebih dulu selangkah kuda.
Batang tempat menghela, daun tempat bersuka, akarnya tempat bersila.
Dengar cakap alim ulama, jangan buat penyorong kereta.
Mesin menyala asap tersisa, besi habis arang binasa.
Hati-hati doa orang miskin bapa, dia dan Tuhan tiada perantara.
Kalaupun azab tak kunjung tiba,
Bukan kerana Allah lupa.
Manusia boleh buat tipu daya, apalah susah bermain kata, apalagi bermain citra.
Tapi ada Yang Maha Kuasa,
bila dia berkehendak semua nyata.
Detak jantungmu dalam kuasanya,
Dia katakan 'Kun' kau pun sirna.
Anambas ditengah samudera, pipa gas di pelupuk mata.
Untaian zamrud katulistiwa,
budak Melayu duduk menyapa.
HP mahal tiada berguna, tak ada signal kata mereka.
Pahlawan devisa negara, meninggalkan sanak keluarga, hanya untuk mencari pelepas haus dahaga.
Negeri kaya tiada terkira, mengapa tiada dibina serta.
Akhirnya apa yang tertera, menjadi kuli dirumah saudara.
Mereka tiada hina, mereka orang kampung.
Kalaulah tak ada asa, hidup tiada bermakna.
Tak ada guna bernyawa, anak negeri merasa hina.
Hati berang marah durjana, Allah maha mulia.
Kata Datuk Syahril Abu Bakar 'dia kirimkan mentari dan purnama'.
Entah siapa mentari, siapa purnama.
Akulah agaknya purnama karena gelap gulita.
Kalau mentari duduk di istana, tentulah kaki akan melangkah.
Kalau Allah titipkan kuasa, jangan angkuh semena-mena.
Kalau alah titipkan kuasa, cerdik dimulia, bodoh dibina.
Kalau Allah titip kuasa, padi disemai, dipetik serta.
Kalau Allah titip kuasa, bagilah minyak itu merata-rata.
Kalau Allah titip kuasa, jangan asik minjam ke China.
Kalau Allah titipkan kuasa, jangan jual aset kita.
Kalau Allah titipkan kuasa, ada saatnya dia akan ambil semua.
Kucoba merangkai kata di atas cakrawala, dari Siak Seri Indrapura menuju Airport Sultan Syarif Kasim II," demikian Ustadz Abdul Somad. (RB/Dwi)



Popularitas Film Adaptasi Game dan Komik Meningkat, Penonton Global Semakin Antusias
Riaubook.com-Industri film global terus mengalami perkembangan yang signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Salah satu tren yang semakin menonjol adalah meningkatnya…