RIAUBOOK.COM - Sejumlah petani karet di Rokan Hulu meminta kepada pemerintah agar mampu memberikan solusi terkait harga komoditi karet.
Seorang petani, Eman (34) mengatakan anjloknya harga karet yang hanya bekisar 5 sampai 6 ribu per kilogramnya, berdampak terhadap penghasilan mereka.
"Kami heran, persoalan ini sudah lama terjadi, tapi sampai sekarang pemerintah belum dapat mencari solusinya. Kami tidak banyak meminta, cukup stabilkan harga karet, Insyaallah taraf ekonomi petani meningkat," terang Eman kepada wartawan, Selasa (3/7/2018).
Eman mengungkapkan, jika persoalan ini terus berlarut dan belum ada solusi dari pemerintah, tidak menutup kemungkinan akan menambah daftar panjang anak petani putus sekolah, karena orang tuanya yang tidak dapat menyekolahkan, akibat penghasilan yang kian menurun.
Jika dibanding dengan perkebunan sawit yang selalu mendapat dukungan serta diprogramkan oleh pemerintah, ini juga menambah kekecewaan petani karet di daerah berjuluk Negeri Seribu Suluk tersebut.
Diutarakan Eman, untuk perkebunan sawit mengapa cepat mendapat respon dari pemerintah mulai dari harga, produksi sampai ke program peremajaannya (replanting). Dan untuk petani karet bertahun-tahun harus merasakan pesakitan, karena harga yang terus anjlok.
"Sangat minim perhatian pemerintah, kalau pun ada bantuan hanya sebatas bibit. Bukan kami tidak mensyukuri, tapi apalah guna bibit dibantu, hasilnya tidak sesuai," keluhnya.
Eman mengakui, bahwa perkebunan sawit yang cukup luas di Provinsi Riau pada umumnya, menjadikan pemerintah cukup memperhatikan harga komoditi pengahasil minyak makan itu.
Namun, kata Eman dampak lingkungan yang diakibatkan sawit lebih besar daripada karet. Bukan hanya itu, biaya operasional untuk sawit lebih besar jiak dibandingkan dengan perkebunan karet. (RB/MC)



Riau Pesisir: Merancang Garis Depan Kemakmuran
SAYA menulis catatan ini bukan dari ruang seminar, tapi dari jalan lintas ke Dumai yang hampir tiap pekan saya lewati.…