RIAUBOOK.COM - Badan Restorasi Gambut (BRG) bekerja sama dengan Winrock International telah melakukan inisiasi awal untuk membentuk Konsorsium Paludikultur Indonesia. Hal tersebut dimulai dengan dilakukannya Diskusi dan Konsolidasi, perluasan pasar dan peningkatan manfaat lingkungan, dalam praktek paludikultur berbasis kesatuan hidrologi gambut yang juga di ikuti oleh Wakil Bupati Siak Alfedri, Kamis (14/2/19) di Hotel Pangeran Pekanbaru.
Deputi IV Badan Restorasi Gambut Dr. Haris Gunawan menyebutkan Kesepakatan dan kesepahaman bersama pada 10 November 2017 antar lembaga serta institusi terkait yang diminta oleh BRG terutama yang terlibat dalam program Paludiculture BRG, untuk membentuk wadah yang resmi dan terarah sesuai tujuan program dan kegiatan restorasi gambut nasional.
Dalam pertemuan tersebut dinyatakan bahwa adanya kebutuhan konsorsium pelaku Paludiculture,terutama bagi lembaga dan universitas yang mempunyai kegiatan restorasi gambut BRG sebagai upaya menyukseskan program restorasi gambut nasional.
"Tujuan dari diselenggarakannya acara ini adalah untuk berbagi pengetahuan dan praktik paludikultur sebagai tindak lanjut kerja sama Konsorsium Paludikultur Indonesia melalui "Diskusi dan Konsolidasi Perluasan Pasar dan Peningkatan Manfaat Lingkungan Dalam Praktek Paludikultur Berbasis Kesatuan Hidrologis Gambut," terang dia.
Ia juga menjelaskan, pada saat ini Semakin meluasanya pengetahuan tentang praktik paludikultur untuk memberikan manfaat perbaikan pengelolaan kesatuan hidrologis gambut, maupun pengembangan pasar dan terkonsolidasinya jejaring kerja peneliti, praktisi dan pemerintah dalam upaya pengembangan alternatif budidaya komoditi ramah gambut,yang menjadi Fokus perluasan pilot model di Kesatuan Hidrologis Gambut Kabupaten Siak, Provinsi Riau di Tahun ini.
Senada dengan apa yang disampaikan Wakil Bupati Siak Alfedri, ia juga memaparkan tentang Kebijakan pemerintah Kabupaten Siak dalam pengembangan potensi alternatif budidaya komoditi ramah gambut dihadapan yang hadir, yaitu mengenai visi pengelolaan lahan gambut Kabupaten Siak dengan terwujudnya pelestarian lahan gambut yang ada di Kabupaten Siak, dengan misi pengelolaan lahan gambut yang saat ini telah terbentuk forum yaitu "sodagho siak".
Alfedri juga menjelaskan,perluasan lahan gambut diperkirakan 4.877 km persegi atau sebesar 57 persen. Menurut dia, tantangan pengelolaan gambut di Kabupaten Siak yaitu terdapatnya kelemahan dalam komunikaai antar pemerintah daerah dengan pemerintah Provinsi, pusat maupun kerusakan lahan gambut secara umum yang disebabkan kegiatan utama yaitu karhutla.
Sedangkan Strategi pengelolaan gambut di Kabupaten Siak, yaitu berupa pengelolaan berdasarkan karakteristik yang spesifik baik dalam dimensi Vertikal maupun Horizontal dalam suatu kelembagaan yang terkoordinasi dari lintas sektoral. (RB/rilis)


Popularitas Film Adaptasi Game dan Komik Meningkat, Penonton Global Semakin Antusias
Riaubook.com-Industri film global terus mengalami perkembangan yang signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Salah satu tren yang semakin menonjol adalah meningkatnya…