Sejumlah daerah kabupaten/kota di Provinsi Riau telah selesai melaksanakan pemilihan langsung calon kepala daerah. Begitu juga dengan sejumlah daerah lainnya di berbagai provinsi di tanah air. Tahukah? bahwa sebagian dari calon pemimpin itu justru memiliki tanda-tanda mendukung tindakan korupsi. Simak!
====
'Tikus pithi anoto baris' atau 'tikus pithi menata barisan' adalah ramalan ketujuh Joyoboyo, seorang raja dari Kerajaan Kediri.
Sejauh ini, ramalan itu masih terus diuji kebenarannya.
Budayawan Sujiwo Tejo dalam tulisannya berjudul ; 'Waspadai Ramalan Ke-7 Joyoboyo' menafsirkan ramalan ketujuh Joyoboyo itu sebagai barisan pemberontakan rakyat nusantara dari berbagai penjuru.
Namun jika ditelaah lebih jauh, tikus yang merupakan sebuah binatang rakus selama ini diartikan sebagai koruptor. Maka, jika digabungkan menjadi satu kalimat atau istilah, menurut seorang dalang, ramalan ketujuh Joyoboyo itu berarti kelompok koruptor yang berbaris menanti jatah dan kesempatan.
Masih bingung?, seniman anti-korupsi mengistilahkan kalimat itu sebagai suatu bentuk ketamakan manusia dalam sistem yang kendur.
Tikus, sifatnya yang suka mencuri, gesit, rakus, kotor, bau, dan membawa penyakit sama persis dengan sifat koruptor yang tidak tahu malu, rakus, dan suka mencuri uang negara tanpa rasa bersalah.
Kasus-kasus 'Tikus' sejauh ini terbukti telah merasuk ke seluruh penjuru nusantara. Tidak terkecuali di daerah yang disebut-sebut sebagai 'Bumi Melayu', dimana langit dijunjung, disana 'kue' tersedia, dan santap...!
Kondisi kronis ini sudah selayaknya diwaspadai oleh berbagai kalangan, sebut saja 'Para Anti-korup'.
Kewaspadaan itu dapat dimulai dengan memilih calon pemimpin yang anti-korupsi, setidaknya salah satu dari mereka yang mungkin bakal meminimalisasi sifat-sifat 'Pithi'.
Dari sejumlah calon kepala daerah di kabupaten/kota di Riau yang telah dipilih secara serentak pada 9 Desember lalu, khalayak mungkin bingung untuk memilih, bisa jadi karena kecerdasan mereka, atau malah sebaliknya.
Mereka yang menyebut dirinya siap untuk membawa perubahan dengan beragam jargon aneh-aneh. Namun yang jelas, tidak satupun dari calon kepala daerah di provinsi ini memiliki visi dan misi untuk memberantas koruptor. Aneh..!
Inilah faktanya ; hampir seluruh pasangan kepala daerah menyampaikan komitmenya dalam pembangunan ekonomi daerah dengan cara optimalisasi infrastruktur, regulasi dan pembangunan hilirisasi produk unggulan. Beberapa ada yang berani untuk menjaga lingkungan dari kebakaran lahan dengan cara menghentikan alih fungsi hutan, tapi hutannya pun sudah habis. "Anta berantah".
Yang jelas, komitmen ini muncul saat digelarnya debat kandidat beberapa hari jelang pemilihan langsung. Semuanya terekam dalam benak khalayak.
Nah, untuk diketahui, pembangunan ekonomi dengan optimalisasi infrastruktur sebenarnya sudah kerap dilakukan oleh para pemimpin terdahulu. Namun fakta-fakta justru membuat miris. Korupsi seperti tidak ada matinya.
Patut untuk diketahui; Pengamat politik Jakob Sumardjo menyatakan, terdapat enam jenis larangan yang harus dihindari seorang pemimpin atau calon pemimpin untuk tidak korup.
Antara lain ; perbuatan nista, maksiat, dusta atau bohong terhadap publik, serta ingkar janji dan sumpah. Kemudian sifat iri hati dan pencuriga, serta serakah. Siapa yang tahu? hanya tuhan dan calon pemimpin terpilih.
Karena satu saja sifat tersebut melekat pada diri seorang pemimpin, maka 'Tikus' akan membentuk satu korporasi, penguasaan ekonomi hanya akan dibagi pada dua golongan, mereka yang kaya raya dan para penguasa.
Namun sebuah penelitian menemukan bahwa mereka yang bekerja tanpa pamrih, dengan jenis kepribadian yang paling disukai, dipandang sebagai calon yang kurang menarik untuk menjadi pemimpin dan diabaikan untuk promosi. Kecenderungan mementingkan orang lain dianggap sebagai tanda kelemahan. Merekalah yang sebenarnya ksatria 'anti-korup'.
Penelitian, dari Kellogg School of Management, Stanford Graduate School of Business and Carnegie Mellon University, menunjukkan bahwa mereka dengan kepribadian ramah memang paling populer di kelompok, tapi mereka juga dianggap lemah atau mudah ditipu. Mereka yang memiliki perilaku yang lebih dominan dan agresif dipandang sebagai kepribadian 'alpha'.
Asisten penulis penelitian, Robert Livingston, dari Kellogg School, mengatakan ; "Menjadi egois membuat seseorang tampak lebih dominan dan menjadi dominan membuat seseorang itu tampak lebih menarik sebagai seorang pemimpin, terutama ketika ada kompetisi."
Walau bagaimana-pun, negara ini masih membutuhkan orang-orang yang berjuang, memberi tanpa pamrih. Bangsa ini masih membutuhkan orang-orang yang optimistis akan perubahan masa depan nan cerah. Mungkin, bisa diawali dengan jargon; "Mari Wujudkan Riau Bebas Korupsi".
Oleh Fazar MuhardiIKUTI KABAR HOT DARI KAMI DENGAN DOWNLOAD APLIKASI BERIKUT, GRATIS



Popularitas Film Adaptasi Game dan Komik Meningkat, Penonton Global Semakin Antusias
Riaubook.com-Industri film global terus mengalami perkembangan yang signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Salah satu tren yang semakin menonjol adalah meningkatnya…