Riau Book - Di antara nilai-nilai asas budaya Melayu yang menjadi jati diri kemelayuan sejak turun temurun adalah nlai Islami. Itu karena budaya Melayu yang menyatu dengan ajaran agama Islam.
Budayawan Alm Tengku Nasyaruddin Effendy (Tenas Effendy) merangkai kalimat itu dalam bukunya berjudul; "Nilai-nilai Asas Jati Diri Melayu". Buku tersebut dituliskan Almarhum sebagai perekat kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
Karenanya, demikian Tenas, budaya Melayu tidak dapat dipisahkan dari Islam, sebagaimana tercermin dari ungkapan; "Adat bersendikan syarak, syarak besendikan kitabullah. Syarak mengata, adat memaknai, sah kata syarak, benar kata adat".
Namun demikian, tulis Tenas dalam buku tersebut, tidaklah bermakna bahwa budaya Melayu menolak masyarakat yang tidak satu akidah, bahkan sebaliknya, menganjurkan untuk hidup saling menghormati, menghargai, bertenggang rasa, dan saling tolong-menolong. Singkat kalimat, bermasyarakat tanpa radikalisme.
Nilai-nilai budaya Melayu yang sangat erat dengan Islam namun tetap menjaga kerukunan umat inilah yang pada akhirnya membawa Riau dalam ketentraman. Kuasa itu diamanatkan kepada seluruh kepala daerah di berbagai wilayah kabupaten/kota, khususnya pemegang tampuk pemerintahan Negeri Melayu, Riau.
Saat ini tampuk pemerintahan di Negeri Melayu dipimpin Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Riau Arsyadjuliandi Rachman. Iapun menyatakan komitmen untuk tetap menjaga kebudayaan yang mengakar itu sebagai pondasi menjaga kerukunan umat dan menangkal radikalisme yang kini melanda sejumlah negara bahkan sempat "menusuk" sejumlah daerah di Tanah Air.
Kawal MelayuPlt Gubernur Riau Andi Rachman disambut tari persembahan disuatu acara di Pekanbaru.
Arsyadjuliandi Rachman yang akrab disapa Andi Rachman melakukan berbagai upaya agar budaya Melayu tidak tercemarkan dengan paham radikal. Salah satunya dengan meminta organisasi keagamaan seperti Majelis Ulama Indonesia (MUI) Riau untuk mengawalnya.
Hal itu menurut dia perlu, sekaligus untuk mewujudkan visi misi Riau menjadi Pusat Kebudayaan Melayu pada 2020.
"Melayu identik dengan Islam. Ini bagian tugas dari MUI Riau untuk mengawalnya. Kalau tak bisa diselesaikan berarti kita masih punya utang," kata Andi Rachman di satu kesempatan di sebuah acara di Pekanbaru beberapa waktu lalu.
Ia mengatakan, jika Riau telah kokoh dengan budaya, maka akan amanlah masyarakatnya. Karena itu, organisasi keagamaan harus bisa meredam adu domba yang bisa merusak tatanan hidup beragama, bersosial dan bermasyarakat.
Apalagi, lanjut dia, sudah banyak perubahan di Riau seperti penduduk yang sudah mencapai 6,2 juta jiwa. Ini karena banyaknya pendatang dari berbagai etnis ke Riau mengingat pertumbuhan ekonominya yang tertinggi di Sumatera.
"Melayu harus dijaga dan dikawal bersama-sama. Kalau lengah dalam waktu 10-20 tahun akan tergerus," kata Andi Rachman yang mengajak masyarakat juga harus memahami agama tanpa pembenarkan radikalisme.
Tentang Radikalisme
Ketua Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Riau, Nizhamul dan Dirbinmas Polda Riau, Kombes Polisi DR Sugiyono berjabat tangan, Senin (30/11).
Dirbinmas Polda Riau DR Kombes Sugiyono SH MH menyampaikan radikalisme adalah gerakan yang ingin melakukan perubahan secara cepat dengan jalan kekerasan. Mereka meyakini pandangannya sebagai suatu tindakan yang benar, sekalipun paham yang dianutnya ditentang banyak orang termasuk keluarga dan kaumnya.
Mengutip salah satu pernyataan dari Syeikh Dr Muh Tahir Ul Qadri tentang mindset radikal. Dalam kutipan itu menurut Dir Binmas minset radikal meyakini bahwa paham dan pandangan mereka sebagai reprentasi Islam yang sebenarnya.
Padahal kaum muslimin tidak setuju, seluruh penguasa muslim juga tidak setuju karena bertentangan dengan hukum Islam. "Paham-paham seperti inilah yang harus diwaspadai, karena tindakan radikalisme ini menganggap lembaga demokratis dan pemilu sebagai perwujudan dari kekafiran. Untuk itu mereka menggelorakan jihad sebagai bentuk perlawanan," kata Dir Binmas Kombes Sugiyono.
Bentuk perlawanan yang dilakukan para pelaku radikal dijelaskan Sugiyono antara lain mereka berfikir kelompoknya satu-satunya yang mendapat benar dan menganggap ulama salaf para pendahulunya sebagai orang jahiliyah, syirik dan bidah.
Mindset inilah yang telah dijadikan sebagai ideologi dan pola pikir, yang mampu mempengaruhi seorang muslim menjadi radikal sehingga berani melakukan aksi kekerasan.
"Aksi kekerasan yang mereka lakukan seperti membunuh, perampokan dan pembantaian, penyerangan terhadap pemerintah maupun instansi tertentu, tempat ibadah, tokoh-tokoh agama. Dan mereka berkeyakinan dengan melakukan aksi tersebut pasti masuk surga," beber Dir Binmas.
Adapun faktor penyebab radikalisme banyak sebab musababnya. Di antaranya adalah faktor kemiskinan, kurangnya pendidikan, marjinalisme, otoritasian, dan standar ganda dari negara maju.
"Banyak sekali teori-teori yang menjelaskan bahwa seseorang bisa menjadi radikal, bahkan menurut ulama arab Syeikh Dr Naji Ibrahim dan Syeikh Ali Halaby, radikalisme atau terorisme yang mengatasnamakan Islam disebabkan dua faktor yaitu paham takfiri (pengkafiran) dan paham ekstrim terhadap jihad," kata Dir Binmas.
Adapun proses rekrutmen yang mereka lakukan biasanya dengan mengiming-imingi harta benda dan jaminan masuk surga bagi yang bersedia melakukan jihad dengan dalih berjuang di jalan Allah.
Paham terorisme dan radikalisme ini bisa dilakukan siapapun, agama apapun dan suku apasaja. Jadi sebenarnya terorisme adalah tindakan teror yang dilakukan oleh orang yang tidak bertanggung jawab dengan mengatasnamakan organisasi tertentu.
"Teroris bukan Islam atau mengatasnamakan agama lain, tapi lebih kepada seorang oknum yang membuat pekerjaan teror untuk mencari perhatian, menunjukkan mereka ada, dengan melakukan tindakan yang meresahkan masyarakat umum dan sebagainya," kata Dir Binmas.
Menurut pemerhati hukum, paham radikal dapat ditangkal dengan budaya masyarakat yang telah mengakar rumput, seperti Melayu yang memiliki; "Sifat tahu asal mula jadi, tahu berpegang pada yang satu".
Menurut Alm Tenas Effendy, sifat tersebut adalah cerminan dari kesadaran diri sebagai insan ciptaan dan hamba Allah, yang menimbulkan kesadaran untuk senantiasa berbuat kebaikan bagi sesama masyarakat, berbangsa dan bernegara dengan tetap berkeyakinan; "Yang agama berkokohan, yang iman berteguhan, yang sujud berkekalan, yang amal berkepanjangan. Sesama manusia ia berguna, sesama makhluk ianya elok. Dan, di dunia membawa tuah, di akhirat peroleh rahmat".
Advertorial Oleh RiauBook/Fazar Muhardi



Popularitas Film Adaptasi Game dan Komik Meningkat, Penonton Global Semakin Antusias
Riaubook.com-Industri film global terus mengalami perkembangan yang signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Salah satu tren yang semakin menonjol adalah meningkatnya…