RIAUBOOK.COM - Sagu sebagai tanaman pangan yang dikembangkan Pemerintah Kabupaten Kepulauan Meranti, Riau, terbukti menyedot perhatian nasional karena turut serta mewujudkan misi pemerintah pusat dalam ketahanan pangan.
"Malam ini bupati menerima penghargaan Indonesia Awards 2017 yang diselenggarakan i-News TV di Jakarta," kata Kepala Bagian Humas dan Protokol Pemda Kepulauan Meranti, Nasruni kepada RiauBook.com, Senin (30/10/2017) malam di Pekanbaru sebelum bertolak ke Jakarta mendampingi Irwan.
Indonesia Awards yang diselenggarakan i-News TV tahun ini mengangkat tema "Indonesia Sejahtera untuk Indonesia Lebih Baik" dengan misi "Menggugah kembali KeIndonesiaan kita".
Dalam awards kali ini, penyelenggara membaginya penghargaan menjadi sejumlah kategori meliputi; pendidikan, kesehatan, infrastruktur, ekonomi kreatif, peduli lingkungan, layanan publik, pariwisata, pembangunan kependudukan dan kategori perempuan dan anak.
Kategori lainnya adalah tata kelola pemerintahan, kreativitas peningkatan PAD, pertumbuhan ekonomi, UMKM dan koperasi, keterbukaan informasi publik, tata kelola kota, budaya, jaminan sosial, pemuda dan olah raga, serta kategori ketahanan pangan.
Untuk kriteria, juga dibagi menjadi beberapa bagian, yakni; Kepeloporan: memiliki pemikiran yang konstruktif dan positif dalam membangun persatuan bangsa.
Kemudian, Konsistensi: konsisten melaksanakan etika profesi dalam kehidupan keseharian serta berdampak luas bagi masyarakat dan mendorong/ mengembangkan/ menerapkan idealismenya dengan menumbuhkan budaya cinta & bangga menggunakan produk dalam negeri.
Serta Kepakaran: prestasi melalui serangkaian karya, gagasan, ide, kegiatan serta jasa, yang telah terbukti kebenarannya bermanfaat luas bagi masyarakat secara nasional.
"Untuk Bupati Irwan, nanti malam akan menerima penghargaan di kategori ketahanan pangan," kata Nasruni.
Ia menjelaskan, penghargaan yang diberikan untuk Bupati Meranti tersebut tentu sesuai dengan visi dan misi pemda dalam upaya mewujudkan ketahanan pangan yang memang merupakan tujuan dari pemerintah pusat.
"Sejak awal beerdiri hingga saat ini, Meranti konsisten mengembangkan atau membudidayakan sagu sebagai bahan kebutuhan pangan yang mengakar.
Malah saat ini sudah banyak turunan makanan yang terbuat dari sagu hingga menjadi makanan khas yang selalu dijadikan oleh-oleh bagi para pendatang," kata Nasruni.
Sejarah Sagu
Bupati Irwan pada kesempatan sebelumnya menjelaskan, Meranti merupakan kabupaten kepulauan hasil pemekaran Kabupaten Bengkalis, Provinsi Riau, sejak 2009 dengan jumlah penduduk yang saat ini mencapai lebih 250 ribu jiwa.
Sejak awal berdiri hingga saat ini, Kabupaten Kepulauan Meranti dipimpin oleh Bupati Irwan Nasir yang konsisten dalam menjaga dan mengembangkan lahan perkebunan sagu.
Untuk diketahui, bahwa Meranti adalah kabupaten kepulauan yang terletak antara daratan Provinsi Riau dan Kepulauan Riau, tepat di Selat Malaka.
Saat ini, daerah pesisir ini sedang menghadapi masalah keterbatasan pangan yang disebabkan keterbatasan lahan pertanian.
"Karena lahan-lahan yang ada di sini adalah lahan-lahan gambut dan rawa," kata Irwan kepada pers di kediamannya di Selatpanjang, beberapa waktu lalu.
Irwan menjelaskan, Meranti adalah kabupaten yang terletak berbatasan dengan negara tetangga persis di Selat Malaka, sehingga menerima kesulitan saat mendatangkan bahan-bahan pokok seperti beras, jagung, kedelai dan sembako lainnya.
Hal itu yang kemudian menurut dia, terdapat banyak keterbatasan-keterbatasan di Kabupaten Kepulauan Meranti, penduduknya harus berupaya memenuhi kebutuhan dengan bercocok tanam di lahan yang sesungguhnya tidak layak.
"Seterusnya kami melihat, bahwa kita, Republik Indonesia ini perlu melakukan sebuah trobosan, bagaimana mencari kebijakan untuk menjamin kelangsungan pangan bagi masyarakat Indoensia kedepan," demikian Irwan.
Kerena, kata dia, semua tahu persis, bahwa tuhan menciptakan lahan atau tanah itu tidak akan pernah bertambah, sementara jumlah manusia atau penduduk dari hari kehari terus bertambah jumlahnya dengan sangat signifikan.
Tentu fakta dan data seperti ini kata Irwan harus dicermati dengan baik, sehingga dalam merumuskan kebijakan di masa depan, jangan sampai pada waktunya nanti, masyarakat Indonesia akan kekurangan makanan dikarenakan kekeliruan dalam menerapkan kebijakan untuk menjaga kelangsungan pangan tersebut.
Untuk itu dalam rangka menjamin, keberlangsungan ketersediaan pangan untuk masyarakat Indonesia, demikian Irwan, pihaknya dari Kepulauan Meranti memberikan suatu pemikiran, untuk Indonesia yang lebih berdaulat dibidang pangan pada masa depan.
"Kabupaten Kepulauan Maranti ini juga sama dengan kabupaten/kota lainnya yang ada di Indonesia, katakanlah di Papua, kemudian di Maluku, bahwa daerah ini adalah merupakan daerah menghasilkan sagu dengan jumlah yang sangat signifikan," kata Irwan.
Lahan Sagu Meranti
Khusus di Kabupaten Meranti, lanjut kata Irwan, produksi andalan pertanian adalah sagu, dimana luas kebun yang tersedia untuk bahan pangan tersebut sudah mencapai lebih kurang 167 ribu hektare.
Memang, lanjut dia lagi, belum seberapa jika dibandingkan dengan Papua dan Maluku yang memiliki lahan sagu hingga jutaan hektare, namun Meranti adalah daerah yang sudah melakukan budidaya perkebunan sagu dengan sangat baik.
"Dan kami juga sudah melakukan pengolahan sagu pascapanen dengan sangat baik pula, sehingga Kepulauan Meranti termasuk daerah yang menjadi rujukan dalam pengelolaan makanan sagu," kata Irwan.
Irwan katakan, bahwa pihaknya mempunyai keyakinan, apabila semua pihak, baik pusat maupun pemerintah provinsi konsen untuk mengembangkan sagu menjadi sebuah alternatif untuk kedaulatan pangan Indonesia di masa depan, tentu ini akan memberi nilai tambah.
Karena menurut dia, sagu adalah komoditas yang sangat potensial di Indonesia, dan pengolahannya juga tidak rumit, bahkan bisa dilakukan di tingkat rakyat, sehingga nantinya akan bisa berkontribusi untuk membangun kedaulatan pangan Indonesia.
Khusus Kabupaten Kepulauan Meranti saat ini, lanjut Irwan, pihaknya sedang menghadapi satu situasi dan kondisi dimana sagu-sagu yang sudah diolah menjadi tepung dengan kualitas yang baik, namun menemukan kesulitan dalam memasarkan sehingga ini juga memberi dampak terhadap rendahnya harga jual sagu di tingkat masyarakat.
"Kondisi tersebut tentunya juga bisa menyebabkan tingginya angka kemiskinan di Kabupaten Kepulauan Meranti," kata dia.
Untuk itu, kata Irwan, pihaknya berharap, kedepannya Pemerintah Republik Indonesia melalui Badan Urusan Logistik (Bulog) bisa masuk untuk ikut serta bagaimana menjamin agar sagu bisa menjadi komuditas olahan andalan bagi masyarakat tradisional Indonesia dengan cara menampung atau membeli sagu yang sudah diproduksi oleh kilang-kilang atau pabrik-pabrik yang ada di Meranti.
Irwan melanjutkan, harapannya dengan kehadiran Bulog, tentu bisa menjaga stabilitas harga sagu pascaproduksi.
"Mudah-mudahan dengan kebersamaan kita, dengan atas nama Indonesia, khususnya bidang pangan masa depan, kami berharap peran pemerintah pusat melalui Bulog akan bisa menjamin Indonesia tidak akan ketergantungan pada bangsa lain dalam hal ketersediaan pangan di masa yang akan datang," Irwan mengakhiri. (RB/fzr)
Follow News : Riau | Kampar | Siak | Pekanbaru | Inhu | Inhil | Bengkalis | Rohil | Meranti | Dumai | Kuansing | Pelalawan | Rohul | Berita Riau


Popularitas Film Adaptasi Game dan Komik Meningkat, Penonton Global Semakin Antusias
Riaubook.com-Industri film global terus mengalami perkembangan yang signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Salah satu tren yang semakin menonjol adalah meningkatnya…