Riau Book--
Kisah berikut ini cukup menyedihkan dan menjadi potret betapa kemiskinan masih saja dimiliki oleh individu rakyat Indonesia.Karena ketiadaan biaya, seorang bapak terpaksa membawa pulang jenazah anak bayinya yang masih berusia enam hari hanya dengan bungkusan kardus setelah nyawanya tidak tertolong meskipun sudah diupayakan dirawat di rumah sakit.
Sang bapak, SS, warga Kelurahan Pakkat, Kecamatan Pakkat Kabupaten Humbang Hasundutan Sumatera Utara, tidak mampu membawa jenazah anaknya pulang dengan menggunakan ambulans. Jangankan ambulans, membeli peti matipun dia sudah tidak sanggup.Ceritanya bermula dari kelahiran istrinya, yang melahirkan bayi kembar di Rumah Sakit HKBP, Balige, 31 Oktober lalu. Saat anak pertama, berhasil dilahirkan melalui persalinan normal. Namun, kelahiran bayi kedua harus dilakukan melalui operasi sectio caesarea atau operasi sesar.Namun ternyata anak yang kedua memiliki masalah dan kemudian oleh pihak RS HKBP Balige dirujuk ke Rumah Sakit Vita Insani, Pematangsiantar. Humas RS Vita Insani Choki Pardede, mengatakan, Bayi SS tiba di Nita Insani pada 31 Oktober pukul 19.04. Saat dimasukkan ke ICU pukul 19.45, kondisi sang bayi sudah kritis. Hasil pemeriksaan tanggal 2 November, terdapat masalah pada paru-parunya. SS setia menunggui bayinya hingga tanggal 3 November. "Saat dirujuk, kondisi bayi sudah kejang-kejang," kata Choki.Tetapi, konsentrasinya harus terpecah karena pada tanggal itu dia harus pergi ke Balige untuk menangani istri dan anaknya yang satu lagi. Sebelum pergi, SS menyerahkan uang Rp5 juta ke pihak RS Vita Insani sebagai biaya perobatan anaknya.Setelah SS pergi, petugas medis tetap melakukan perawatan terhadap bayi tersebut. Kemudian, 5 November kondisi bayi samakin memburuk. Karena ayah bayi sedang di Balige, pihak rumah sakit tetap memberi kabar tentang perkembangan si bayi.Namun, pada Jumat 6 November sekira pukul 12.10 WIB, petugas medis melaporkan bahwa bayi tersebut sudah meninggal. Tapi, melalui pesan singkat, SS mengaku tidak sanggup lagi untuk menjemput jasad anaknya dengan alasan uang tidak ada lagi, kata-kata yang menyedihkan..."Satu malam ini sudah saya usahakan, Pak. Tetap tidak ada, Pak. Mohon, Pak karena ketidakmampuan, kami sudah tidak sanggup lagi, Pak. Mohonlah, Pak, kami tidak bisa datang. Supaya jenazah anak saya gimana baiknya pihak rumah sakit menyelesaikan. Kami keluarga sudah ikhlas, Pak. Mohon maklum, Pak. Kami sudah tidak makan lagi pak," demikian isi pesan singkat SS menjawab pemberitahuan pihak RS Vita Insani.Selanjutnya pihak RS Vita Insani menghubungi RS HKBP Balige dan membenarkan bahwa istri SS sedang menjalani perawatan. "Menurut mereka, istri SS melahirkan bayi kembar. Pertama lahir secara normal. Kemudian, kembarannya lahir secara cesar atau operasi. Tapi kondisi bayi yang cesar ini kritis, maka dirujuklah ke RS Vita Insani," terang Choki lagi.
Seluruh biaya perawatan bayi selama di RS Vita Insani sebesar Rp10.800.000. Namun, SS telah membayar sebesar Rp5 juta. "Untuk sisanya tidak perlu lagi dibayar. Artinya pihak rumah sakit memutihkan sisa pembayarannya itu, sebagai bentuk sosial kita," ujar Choki.Mencegah persoalan hukum, pihak RS Vita Insani menyerahkan masalah ini ke Polres Pematangsiantar dengan harapan bayi itu diambil oleh keluarganya. "Kita melaporkan ini kepada polisi supaya dilakukan proses hukum. Kita tidak mau ada tuduhan yang negatif terhadap rumah sakit. Kita sudah hubungi dan membertahukan bahwa biaya yang kurang akan ditanggung rumah sakit," terang Choki Sabtu siang.Setelah pihak kepolisian berkomunikasi dengan pihak keluarga, akhirnya pihak keluarga bersedia datang ke Siantar untuk mengambil jasad bayi tersebut. Sekitar pukul 23.30 WIB, SS bersama seorang kerabatnya tiba di RS Vita Insani dan langsung melihat anaknya sudah tidak bernyawa.Saat diwawancarai, SS mengaku terpaksa meninggalkan anaknya di RS Vita Insani lantaran harus mengurus anak dan istrinya yang ada di Rumah Sakit HKBP Balige.Kondisi ekonomi yang cukup memprihatinkan itulah yang membuat SS tidak memiliki pilihan lain meninggalkan anaknya itu di Rumah Sakit Vita Insani.
"Pokoknya anak saya sehat. Itu yang saya pikirkan. Jadi, saya sampai di sini selama tiga hari tiga malam, saya masih menjaga dan setelah tiga hari istri saya menelepon karena mereka harus pulang dari rumah sakit Balige," terang SS."Sebelum pulang ke Balige saya titip uang Rp5 juta. Saya yang mengurus semua. Itulah alasan saya harus meninggalkan Vita Insani. Saya permisi dengan membuat surat pernyataan dan tanda tangan. Ketika saya urus anak saya yang di Balige dibawa ke Pakkat dan tiba di Pakkat, ternyata anak saya sudah parah. Pihak Rumah Sakit Vita Insani menelepon saya," ungkap SS dengan sedih.Sementara itu, biaya yang sudah dikeluarkan sudah mencapai Rp14 juta. Sebanyak Rp9 juta habis di RS HKBP Balige. "Saya sudah nggak tahu lagi mau berbuat apapun, karena uang saya semua sudah habis. Awalnya, dokter di RS HKBP Balige mengatakan bahwa anak saya akan lahir dengan normal. Setelah kemudian satu melahirkan normal, ternyata kembarannya harus dioperasi. Setelah dioperasi, kondisinya buruk. Makanya dirujuk ke Vita Insani. Kami tidak sempat menggunakan kartu BPJS karena sudah banyak beban pikiran," terangnya sembari menggendong bayinya di ruang jenazah Rumah Sakit Vita Insani.SS menambahkan, sebenarnya dia sudah menyerahkan sepenuhnya ke pihak rumah sakit karena tidak ada lagi biaya untuk menebus. "Saya dapat telepon dari rumah sakit (RSVI) kalau anak saya sudah meninggal tetapi karena tidak ada biaya makanya saya serahkan kepada pihak rumah sakit. Namun kemudian pihak rumah sakit mengatakan bahwa biayanya diputihkan, makanya saya bisa datang lagi ke sini," akunya.Usai menandatangani surat penyerahan jenazah dari pihak rumah sakit ke ayah korban, tampak jasad bayi itu dimasukkan ke dalam kardus karena sudah tidak ada biaya membeli peti mati termasuk mobil sewa menuju Pakkat."Saya harus berangkat ke kampung dan mencari bus lagi. Kalau tak saya masukkan ke kardus, nanti kami tidak bisa naik mobil angkutan umum. Sebab, kalau sopirnya melihat ada bayi meninggal kami gendong, pasti kami ditolak. Padahal besok, ini (jenazah) harus dimakamkan," ungkapnya dengan terburu-buru demi mengejar jadwal mobil yang akan berangkat ke daerah Pakka.



Popularitas Film Adaptasi Game dan Komik Meningkat, Penonton Global Semakin Antusias
Riaubook.com-Industri film global terus mengalami perkembangan yang signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Salah satu tren yang semakin menonjol adalah meningkatnya…