RIAUBOOK.COM - Camat Tebingtinggi Timur Tunjiarto mengungkapkan cukup sulit menghadapi kelompok Komunitas Adat Terpencil (KAT) - Suku Akit yang terdapat di beberapa dusun Desa Kepaubaru, Kecamatan Tebingtinggi Timur, Kabupaten Meranti.
Aturan yang kita terapkan bagi masyarakat, tidak mudah mereka terima. Bahkan tidak dapat memahami betapa pentingnya memiliki identitas diri sebagai warga negara.
Suku Akit di wilayahnya merasa bahwa yang terpenting dari segalanya tercukupi pangan yang menjadi pokok utama. Selanjutnya sandang baru kemudian kebutuhan tempat tinggal.Bahkan komunitas orang pedalaman ini cukup terbiasa dengan hidup di bawah atap daun dan tidur di atas kulit kayu. Atau pelepah daun sagu yang disusun sedemikian rupa, jadi mereka tidak berambisi memiliki rumah beton dan tidur di kasur empuk. Bahkan hal itu masih jauh dari angan-angan mereka.
Sehingga program yang kita sosialisasikan di tengah mereka, terkesan tidak masuk akal. Cara berfikiran mereka juga masih cukup primitif dan hanya percaya kepada tetua atau ketua adat yang ada.
Suku Akit hingga saat ini hidup dalam berkelompok dan kehidupan mereka masih sangat jauh dari kehidupan masyarakat pada umumnya.
"Inilah kendala pokok yang kami hadapi di lapangan, dalam rangka sosialisasi berbagai aturan dan harapan pemerintah kepada masyarakatnya. Ini juga menjadi kendala yang kita hadapi dalam menyukseskan program pengentasan kemiskinan yang terus digaungkan pemerintah," ungkap Tunjiarto, Camat Tebingtinggi Timur kepada RIAUBOOK.COM disela-sela mengikuti Semi Loka tentang studi kelayakan Suku Akit yang digelar di aula kantor bupati, Kamis (08/06/2017).
Tunjiarto, didampingi Kepala Desa Kepaubaru, Ali Amran menambahkan, banyak pihak yang datang menemui komunitas ini, tapi semua yang didengarkan hampir tidak menjadi acuan bagi mereka.
Semisal upaya partai yang datang mengajak komunitas ini agar mendukung partai tersebut, ataupun salah satu tokoh yang akan maju pileg, maka saat di depan tokoh itu mereka katakan ya.Tapi setelah ditinggalkan semua menjadi sirna. Kepada si A dikatakan ya dan kepada si b si c dan si d juga dikatakan hal yang sama. Tapi ternyata semua itu hanya dalam ucapan belaka.
Pada dasarnya mereka juga tidak butuh KTP dan bentuk surat-surat lainnya. Walau pada akhirnya mereka menyadari banyak gunanya. Tapi sikap mereka yang terkesan tidak memiliki prinsip kadang semua rencana yang dipaparkan tidak membuahkan hasil maksimal.
Sementara, berbagai ketentuan untuk mendapatkan bantuan dari pemerintah pusat, seperti NIK seseorang menjadi dasar untuk mendapat bantuan.
Seperti bantuan untuk raskin ke depan hanya melalui nomor induk kependudukan dan beras akan digantikan dengan dana tunai.
"Demikian juga pada program berikutnya, warga Suku Akit nantinya akan mendapat subsidi gas 3 Kg, juga berdasarkan nomor identitas kependudukan yang mereka miliki. Jika mereka tidak memiliki identitas diri tersebut maka bantuan itu akhirnya tidak bisa disalurkan," ujarnya lagi.
Hal lain yang kita hadapi di lapangan adalah mengenai kepemilikan tanah perumahan atau lahan mereka yang diperoleh dari leluhur mereka. Kadang ini menjadi problem teknis dalam pelaksanaan program pembangunan rumah layak huni, namun kita akan cari solusi dengan membuat surat hibah," jelas Ali Amran. (RB/Jos)
Follow News : Riau | Kampar | Siak | Pekanbaru | Inhu | Inhil | Bengkalis | Rohil | Meranti | Dumai | Kuansing | Pelalawan | Rohul | Berita Riau


Popularitas Film Adaptasi Game dan Komik Meningkat, Penonton Global Semakin Antusias
Riaubook.com-Industri film global terus mengalami perkembangan yang signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Salah satu tren yang semakin menonjol adalah meningkatnya…