Indonesia Dipertarukan Demi PKI! Tanda Lemah atau Cueknya Intelejen Negara?

Riau Book - Pihak Komisi Nasional (Komnas) Hak Asasi Manusia (HAM) menyatakan pemerintah tidak perlu khawatir Partai Komunis Indoensia (PKI) akan muncul kembali, karena harus diselesaikan oleh negara adalah kasus pelanggaran HAM 1965 yang dialami para korban, bukan partai.

Komisioner Komnas HAM Imdadun Rahmat menyatakan yang diperjuangkan adalah keadilan untuk para korban dan pengembalian hak-hak politik mereka sebagai warga negara.

"Yang dilakukan komnas HAM itu tidak mengadvokasi PKI tetapi para korban yang mengalami tindakan baik itu pembunuhan, pemerkosaan, penculikan, kemudian pemenjaraan tanpa pengadilan, jadi tanpa proses hukum tetapi mendapatkan hukuman yang tidak adil," jelas Imdadun.

Sebelumnya, Komnas HAM menyatakan ungkapan penyesalan akan disampaikan oleh pemerintah kepada para korban, dan bukan pada partai tertentu.

Pernyataan Imdadun itu disampaikan menjawab pertanyaan wartawan mengenai adanya kekhawatiran penyelesaian kasus pelanggaran HAM 1965 akan menyebabkan PKI kembali muncul.

Beberapa waktu terakhir, sejumlah pejabat pemerintah termasuk Presiden Joko Widodo, menepis kabar yang santer beredar tentang permintaan maaf yang disebut-sebut terhadap PKI.

"Sampai saat ini, tidak ada pemikiran untuk minta maaf, jadi tanyakan ke yang nyebar-nyebarin, jangan tanya ke saya," ungkap Jokowi kepada wartawan usai upacara Kesaktian Pancasila di Lubang Buaya, Kamis (1/10/2015).

Imdadun mengkhawatirkan, simpang-siur isu ini akan mengendorkan semangat untuk menyelesaikan proses pelanggaran HAM di masa lalu.

"Benar formatnya tidak minta maaf tetapi menyesalkan dan kita berharap Kementerian Polhukam secara institusi dan TNI meski ganti pimpinan, tetap konsisten dengan semacam kesepakatan dalam pertemuan sebelumnya dengan Komnas HAM untuk mendorong penyelesaian ini," jelas Imdadun.

"Cara dan formatnya mari kita rembuk, dan pemerintah bisa mengundang para ahli untuk mencari tahu cara yang tepat untuk menyelesaikan ini," jelas dia.

Penyelesaian dengan jalan rekonsiliasi ini menurut Imdadun, merupakan yang moderat untuk menyelesaikan kasus pelanggaran HAM masa lalu.

"Proses ini jangan berhenti karena ini kan sudah sangat moderat kan, baik pendamping ataupun masyarakat sipil, itu sudah memberikan jalan yang paling ngalah kita, negara kalau mau nawar lagi kayaknya ya kebangetan," kata Imdadun.

Dukungan publik

Komnas HAM berharap tokoh-tokoh agama, DPR, aktivis memberikan dukungan moral dan legitimasi politik kepada Presiden Joko Widodo untuk menyelesaikan kasus pelanggaran masa lalu.

Imdadun menyatakan usulan pembentukan Komite Rekonsiliasi telah disepakati dalam rapat gabungan antara lain dengan Menkopohukham, Kejaksaan Agung pada Mei lalu. Dan saat ini tinggal menunggu keputusan presiden.

"Pembentukan komite ini masih diproses di presiden, kita tidak tahun kapan akan diumumkan, menurut saya tidak perlu terlalu lama dan publik harus mendukung karena kita khawatir presiden tidak cukup confidence untuk mengambil keputusan ini karena ada risiko politik, dan orang-orang yang tidak suka akan berupaya menghambatnya," ungkap Imdadun.

Komnas HAM mengusulkan Komiter Rekonsilasi berjumlah 15 orang dari berbagai latar belakang, dan mereka akan melakukan proses pengungkapan kebenaran dalam waktu tiga tahun.

"Tiga tahun itu konsepnya harus selesai semua, pengungkapan kebenaran sudah tuntas. Keputusan negara (sudah keluar tentang) harus melakukan apa saja untuk rehabilitasinya, dalam bentuk apa, siapa yang melakukan, departemen apa yang terlibat itu sudah selesai," tambah dia.

Sementara implementasi rehabilitasi dilakukan tanpa batas waktu, sampai selesai.

Imdadun menyatakan penyelesaian kasus pelanggaran HAM masa lalu, termasuk 1965 ini, harus dilakukan segera agar negara terbebas dai beban sejarah.

Kalau tidak, "masalah selalu saja muncul menjelang tanggal segini, tanggal 30 September dan 1 Oktober. Dan isu yang terus muncul ini akan terus menjadi alat reproduksi kebencian sosial, permusuhan baru dan ini harus diakhiri," jelas dia.

Di sisi lain, Nursyahbani Katjasungkana dari International People Tribunal IPT menyatakan sejumlah bukti penelitian menunjukkan bahwa telah terjadi genosida pada 1965, dan studi terakhir peristiwa itu terjadi di Aceh, tetapi tidak ada tindakan yang dilakukan oleh pemerintah.

"Untuk itu pemerintah Indonesia telah memenuhi syarat untuk dikatakan tidak mau dan tidak mampu untuk melaksanakan tanggung jawabnya menurut hukum nasional dan internasional," jelas dia.

Nursyahbani menyatakan akan membawa kasus ini untuk diadvokasi dalam bentuk People Tribunal di Belanda pada tahun ini.

"Pengadilan ini akan meminta pertanggungjawaban negara dan rekomendasinya agar pemerintah melakukan kewajibannya menurut hukum internasional, pemerintah juga akan diundang," jelas dia.

Disebutkan, "putusan" akan dibacakan di Jenewa pada 2016. Dan yang menimbulkan pertanyaan adalah, dimana intelejen negara saat ini? Negara sedang dipertaruhkan! (bbc/RB)

foto

Terkait

Foto

Di Rohul ada Beras Miskin Tak Layak Konsumsi? Pejabat Membantahnya

Riau Book - Pihak Kepala Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintahan Desa (BPMPD) Kabupaten Rokan Hulu (Rohul), Riau, Drs Yusri MSi…

Foto

Inilah Pernyataan Resmi Jokowi Soal Minta Maaf ke PKI

Riau Book - Dalam peringatan ini Bangsa Indonesia selalu waspada terhadap rongrongan gerakan PKI terhadap ideologis Pancasila, kata Presiden Jokowi…

Foto

Hanya Soal Martabat Keluarga, Wanita ini Ditembak Mati Dihari Pernikahannya

Riau Book - Kisah mengharukan sekaligus tragis dari seorang perempuan India yang ditembak mati tepat di hari pernikahannya. Pelakunya ternyata…

Foto

Katanya Demi Kehormatan, Wanita Dipukuli Keluarga Hingga Tewas, Pacarnya Dinpenggal

Riau Book - Kisah tragis dari perjalanan kehormatan sebuah keluarga. Seorang wanita muda di India dipukuli sampai mati oleh anggota…

Foto

Bandara Diganggu Asap, Kemenag Riau Siapkan Kapal Angkut Jemaah Haji dari Batam

Riau Book - Kementerian Agama Provinsi Riau telah menyiapkan kapal khusus untuk mengangkut jemaah haji asal daerah itu dari Batam…

Foto

Ibu Mati Dibunuh Pemburu, Anak Gorila Bersedih di Sandaran Manusia

Riau Book - Kisah mengharukan terjadi pada anak dan ibu gorila. Jika sebelumnya kesedihan mendalam dialami induk gorila, kali ini…

Foto

Diisukan jadi Gigolo, Imigran Gelap di Pekanbaru Mulai Diawasi Polisi

Riau Book - Sebelumnya beredar isu menyatakan banyak pria imigran gelap yang ditampung di Rumah Detensi Imigrasi (Rudenim) Pekanbaru, Riau,…

Foto

Kejari Mendadak Temui Ketua DPRD Rohil, Katanya Sebatas Silaturahmi

Riau Book - Kepala Kejaksaan Negeri Bagansiapiapi Bima Prayoga, mendadak mendatangi Kantor Dewan Perwakilan Rakyat Dearah (DPRD) Rokan Hilir (Rohil),…

Foto

Ketahuan, Dalang yang Fitnah Jokowi Bakal Minta Maaf sama PKI

Riau Book - Telah ada data mengenai penyebar fitnah terhadap Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang menyatakan presiden akan mewakili Pemerintah…

Foto

Bertaruh Nyawa Jembatan Penghubung Desa di Rohul

Riau Book - Jembatan Monding yang berada di Desa Limo Manis, Kecamatan Kunto Darussalam, Kabupaten Rokan Hulu (Rohul), Riau, sangat…

Foto

2 Hari Lalu Dana Darurat Asap Pekanbaru Sudah Cair Rp500 Juta

Riau Book - Pihak Pemerintah Kota Pekanbaru, Provinsi Riau, telah mencairkan dana tidak terduga sebesar Rp500 juta bagi penanggulangan bencana…

Foto

Nasib Mu Petani Riau, Hei Wakil Rakyat Jangan Sibuk Proyek Terus

Riau Book - Nasib petani perkebunan dan hortikultura di berbagai wilayah kabpaten/kota di Riau kian memprihatinkan, dihantam pemerosotan harga sawit…

Foto

Rapat Galau Tanpa Solusi, Pusat dan Pejabat Riau Nggak Nyambung Soal RTRW

Riau Book - Kejadian unik dalam Rapat Koordinasi Sinkornisasi Daerah Aspirasi Provinsi Riau (Rakor SDA) yang di taja oleh Dewan…

Foto

Bisa ya... Polisi Pekanbaru Bantu Ibu Muda Melahirkan

Riau Book - Aparat Kepolisian Sektor Payung Sekaki Kota Pekanbaru, Provinsi Riau membantu proses persalinan seorang ibu muda di samping…

Foto

Wow, Ratusan Orang Kepung Istana Presiden Jokowi Berkaitan dengan PKI

Riau Book - Sebanyak ratusan orang dari berbagai elemen akan menyerukan aksi kepung Istana Negara yang bertemakan Aliansi Tarik Mandat…

Foto

Musim Asap, Rampok Bermasker Sekap Petugas Gasak Rp1,5 Miliar dari Bank Mandiri Siak

Riau Book - Aksi kejahatan kembali terjadi di tengah kepulan kabut asap. Kali ini perampokan dialami Bank Mandiri Kecamatan Lubuk…

Foto

Inilah Jadinya jika Jokowi Marah! Para Menteri "Disemprot"

Riau Book - Presiden Joko Widodo memiliki gaya yang khas, selalu senyum dan kerap menyapa. Namun bagaimana jika Jokowi marah?…

Foto

Pemadaman Listrik Pekanbaru Gila-gilaan, Warga: Lengkaplah Penderitaan

Riau Book - Krisis listrik kembali berlangsung di Riau. Pemadaman berjam jam secara bergilir dilakukan oleh Perusahaan Listrik Negara (PLN)…

Foto

Lagi-lagi Karena Asap Bandara Pekanbaru Lumpuh, Sejak Pagi Baru 3 Pesawat Mendarat

Riau Book - Pihak Asosiasi Perusahaan Agen Penjual Tiket Indonesia (Astindo) Riau menyebutkan, baru tiga pesawat mendarat di Bandara Internasional…

Foto

"Sinar Mas Peduli", LAM: Karena Pangdam Sinar Mas Jangan Sok Peduli Asap Riau

Riau Book - Gerah dengan banyaknya baleho yang bertebaran di posko-posko kesehatan bertuliskan "Sinas Mas Peduli Kesehatan". Menunurt Ketua Dewan…

Wisata dan Gaya Hidup

Foto

Tiga Pemenang Duta Muslimah Preneur Riau 2026 Resmi Terpilih, Siap Gerakkan Ekonomi Lokal

RIAUBOOM.COM - Pengurus Wilayah Ikatan Pengusaha Muslimah Indonesia (PW IPEMI) Provinsi Riau sukses menggelar puncak pemilihan Duta Muslimah…

Foto

Ini Cara Orang Pekanbaru Sambut Ramadan, SF Hariyanto: Dengan Hati Bersih Jiwa Lapang

RIAUBOOK.COM - Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Riau, SF Hariyanto, secara resmi membuka rangkaian perayaan tradisi Petang Belimau Kota Pekanbaru yang…

Foto

Tari Zapin 6 Ribu Peserta Pecah Rekor Dunia, Plt Gubernur: Riau Memilih Untuk Maju Tanpa Tercerabut

RIAUBOOK.COM - Sebanyak 6.000 penari menyatu dalam satu denyut nadi, mempersembahkan Tari Zapin Masal yang bukan sekadar tarian,…

Pendidikan