MANTAN Danjen Komando Pasukan Khusus (Kopassus) Prabowo Subianto semakin liar usai didesak kader Gerindra maju dan masuk dalam bursa Capres 2024.
Berbagai manuver dilakukan Ketum Gerindra itu dengan memanfaatkan jabatan sebagai Menteri Pertahanan (Menhan). Mulai kunjungan luar negeri ke berbagai negara, hingga menemui para senior di kalangan militer dalam negeri.
Terakhir, Prabowo Subianto menemui mantan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) AM Hendropriyono.
Pertemuan yang berlangsung di kediaman Hendropriyono itu terungkap melalui penggalan video yang diunggah Diaz Hendropriyono lewat akun pribadinya, @diaz.hendropriyono, Jumat (8/7/2024).
Postingan tersebut langsung diserbu netizen. Beberapa bahkan menilai pertemuan tersebut erat hubungannya dengan pencalonan Prabowo pada Pilpres 2024 mendatang.
Terlepas dari beragam spekulasi yang ada, hal menarik yang perlu ditelaah di balik silaturahmi junior-senior tersebut, yakni apa skenario selanjutnya yang diputuskan dari pertemuan itu.
Text and Meaning
Sebelum membedah apa pesan dibalik pertemuan dua jenderal TNI purnawirawan, barangkali penting untuk memahami konteksnya terlebih dahulu. Dalam rangka memahami konteks yang melingkupi pertemuan tersebut, kita andaikan kedatangan Prabowo ke kediaman Hendropriyono adalah sebuah 'teks'.
Pengertian teks di sini bukan dalam arti literer, melainkan sebuah kondisi, fenomena, objek, situasi yang memiliki makna tertentu. Lebih tepatnya lagisocial text.Sebuah teks hanya dapat bermakna sejauh ia dimaknai dalam konteks tertentu. Semisal, 'si A dan si B sedang cekcokan' adalah sebuah teks sosial.
Seseorang tentu tidak akan memahami mengapa si A dan si B terlibat dalam percekcokan, seandainya tidak masuk ke dalam konteks peristiwa tersebut. Konteksnya bisa bermacam-macam, mulai dari tempat terjadinya perseteruan, waktu, budaya, motif individu, hingga aneka kepentingan lainnya yang menyebabkan pertikaian tersebut terjadi.
Demikian, antara teks dan konteks, terdapat sebuah korelasi yang membentuk suatu makna. Melepaskan teks dari konteks tidak hanya menyingkirkan makna dari sebuah peristiwa, tapi juga menjadikan peristiwa tersebut menjadi tidak bermakna.
EV Emmons dalamText, Context, and Substext,menyebut hubungan antara teks dan konteks sebagai satu kesatuan yang memberi arti khusus. Dengan kata lain, masing-masing tidak dapat dijelaskan secara terpisah, terkecuali melihatnya dalam sebuah keterhubungan kompleks. Sebagaimana teks, konteks menurut Emmons dapat diartikan sebagai sebuah bingkai yang mendefinisikan sebuah teks itu sendiri dan memberinya makna.
Lantas, apa yang dapat dimaknai di balik sungkemnya Prabowo ke Hendropriyono dalam hubungan teks dan konteks? Pertama, kunjungan Prabowo ke rumah Hendropriyono tidak cukup hanya ditafsirkan sebagai pertemuan biasa, layaknya seorang junior yang kapan saja bertandang ke rumah seniornya.
Mengapa tak cukup? Sebab, ada ragam konteks yang perlu diinterpretasikan. Misal, tanpa harus dijelaskan, publik tahu bahwa Indonesia kini tengah memasuki momentum Pemilu 2024. Dalam menjemput perhelatan politik elektoral itu, bermunculan sejumlah nama yang berpotensi bakal maju sebagai kandidat baik capres ataupun cawapres.
Alhasil, Prabowo sendiri selain namanya disebut-sebut dalam berbagai rilis lembaga survei, juga beberapa kali-bahkan sering-menempati urutan pertama nominasi capres.
Konteks berikutnya yang perlu dicermati adalah figur yang ditemui mantan Danjen Kopassus tersebut. Sosok Hendropriyono yang ditemui sang Menhan bukanlah sembarang orang. Dalam dunia intelijen, nama Hendropriyono diakui sebagai tokoh intelijen paling berpengaruh.
Meski sudah pensiun, pengaruh sosok berjuluk 'the master of intelligence' tidak bisa dipandang sebelah mata. Pasalnya, Hendropriyono termasuk salah satu dari tiga tokoh intelijen asal Indonesia yang kehebatannya diakui dunia. Dua di antaranya Leonardus Benny Moerdani dan Yoga Sugama.
Belum lagi, Hendropriyono juga termasuk salah satu aktor berpengaruh di balik suksesi Jokowi baik di Kota Solo maupun sebagai Gubernur DKI Jakarta. Bahkan, hingga maju presiden, kemenangan Jokowi tidak bisa dilepaskan dari bayang-bayang Hendropriyono.
Atas pertimbangan itu, anjangsana Prabowo ke Hendropriyono harus dimaknai dalam konteks 'permohonan petunjuk' untuk langkah politiknya. Prabowo sadar bahwa sebagian kecil ataupun besar dari manuver politiknya bergantung pada restu sang senior.
Untuk itu, dengan pertemuan itu diharapkan ada titik terang terkait keputusan apa yang akan diambil menghadapi pemilu depan mata. Termasuk, apakah hasil pertemuan itu akan semakin meyakinkan keputusan Prabowo untuk melanjutkan keinginannya maju secagai Capres, atau justru mengendurkan niatnya dan merelakan ke figur lain yang lebih tepat?
IndoNarator mencermati, seusai pertemuan tersebut, terdapat sejumlah perubahan terkait skenario politik yang akan diambil Prabowo.
The New Scenario
Skema baru pencapresan Prabowo dipastikan berubah seusai dirinya bertemu Hendropriyono. Perubahan skema ini tidak terlepas dari sosok Jenderal Andika Perkasa yang juga menantu Hendropriyono yang diisukan akan maju pada Pemilu mendatang.
Kuat dugaan, kedatangan Prabowo berkaitan dengan kompromi soal siapa di antara keduanya (Prabowo dan Andika) yang akan didorong maju. Memang, sejauh ini hijau militer yang terlihat lebih aktif membangun manuver politik adalah sosok Prabowo dibandingkan Andika.
Ini wajar, mengingat Andika sendiri kini masih belum purna jabatan sebagai Panglima TNI. Inilah yang membuat Andika masih belum terbuka dalam melakukan mobilisasi dukungan. Namun, bukan tidak mungkin, seusai dirinya mengakhiri masa jabatan pada akhir tahun ini, akan lebih aktif dalam membangun konsolidasi dukungan.
Terkait representasi unsur militer dalam pencapresan 2024, berdasarkan informasi yang dihimpunIndoNarator, besar kemungkinan Prabowo akan legowo jika yang didorong adalah Andika.
Beberapa alasan menjadi pertimbangan. Pertama, Andika merupakan satu-satunya bakal Capres dari unsur militer yang namanya belakangan kian populer, terutama di kalangan anak-anak muda.
Kedua, Andika juga terbilang masihfresh, enerjik dan lebih diterima di kalangan masyarakat. Terlebih, ia juga tidak meninggalkan rekam jejak yang buruk sehingga sukar diinterpedo oleh kelompok manapun.
Ketiga,Andika memiliki sejumlah reputasi baik nasional maupun internasional. Salah satu bentuk penghargaan internasional paling bergengsi yang didapatkan Andika, yakni penghargaanMedali The Legion of Merit, degree of Commander, dari Pemerintah Amerika Serikat.
Yang menarik, medali prestisius tersebut hanya satu-satunya didapatkan Andika dari seluruh Jenderal RI. Tentu ini merupakan sebuah prestasi yang patut diapresiasi.
Sementara, Prabowo sendiri sejauh ini belum berhasil merebut seperdua dari simpati publik tanah air. Ini dibuktikan dengan tiga kali kekalahan yang ia dapatkan selama mengikuti kontestasi elektoral.
Dari deretan kekalahan ditambah hilangnya sebagian besar basis konstituennya pada Pemilu terakhir membuatnya semakin kehilangan dukungan. Satu-satunya yang membuat dirinya yakin bisa kembali maju di Pemilu 2024 ialah perolehan elektabilitas.
Memang, dari berbagai laporan survei Prabowo terbilang masih berada di urutan tiga besar. Namun, siapa yang bisa menjamin bahwa hasil survei akan berbanding lurus dengan dukungan riil di masyarakat?
Bertolak dari argumen tersebut, bisa dipastikan bahwa skenario pencapresan Prabowo di 2024 akan mengalami perubahan besar. Bukan mustahil ia akan merelakan kesempatan itu kepada sosok Andika yang jauh lebih berpeluang memenangkan kontestasi.
Pertemuannya dengan sang senior, Hendropriyono secara tidak langsung menegaskan perubahan skenario politik tersebut.
Sementara itu, beberapa mesin politik seperti Golkar dan gerbong KIB sejauh ini masih menunggu perubahan konstelasi politik jelang Pemilu. Mereka akan melihat mana di antara bakal calon presiden dan wakil presiden memenuhi unsur satu warna dua bendera.
Variabel satu warna dua bendera atau komposisi Islam-militer ini menjadi penting karena ini berhubungan erat dengan dukungan negara pembayang. Sokongan internasional ini biar bagaimana pun tetap harus dimasukkan dalam variabel dukungan penentu, menimbang pengalaman-pengalaman sebelumnya.
Dengan demikian, kepasrahan Prabowo untuk memberikan kesempatan kepada Jenderal Andika harus juga dibaca dalam konteks mencari racikan terbaik komposisi satu warna dua bendera pada Pemilu mendatang. Menarik untuk menyaksikan formulasi skenario baru setelah Prabowoanjangsanake kediaman sang senior.
Sebaiknya Prabowo memahami pentingnya mengedepankan logika ketimbang nafsu yang telah beberapa kali membuatnya jatuh.
*Penulis: Bung HarSam (Director of Research IndoNarator)



Popularitas Film Adaptasi Game dan Komik Meningkat, Penonton Global Semakin Antusias
Riaubook.com-Industri film global terus mengalami perkembangan yang signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Salah satu tren yang semakin menonjol adalah meningkatnya…