Oleh: Bagus Santoso
Warga Kota Pekanbaru, Provinsi Riau.
Aku sekeluarga tinggal di Kota Pekanbaru, Provinsi Riau. Tidak ada kaitan apalagi kepentingan dengan pilihan Gubernur DKI Jakarta.
Lalu kenapa aku harus khawatir dengan Ahok? Energi surat Al-Maidah membuatku gemetar atas apa yang diucapkan dari mulut Ahok. Entah secara sadar atau tidak, atau karena pintar atau bodohnya Ahok.
Aku sungguh respek dengan gebrakan reformasi birokrasi di DKI Jakarta. PNS dipaksa disiplin dan wajib memberikan pelayanan prima pada masyarakat. Jakarta terlihat rapi dan maju pembangunannya. Meski dalam hati kecilku aku tidak suka- kurang sreg- dengan omong kasar dan gaya sok petentang-petenteng Ahok.
Kini aku sekeluarga dibuat khawatir atas apa yang dilakukan Ahok. Itu karena anak- anakku bermata sipit. Aku mencemaskan keselamatan istri dan anak-anakku . Ada bayangan kejadian tahun 1998 terulang kembali. Siapa manusia bermata sipit akhirnya mendapat efek jelek tersebab ulah pongah seseorang atau sekelompok Cina.
Memang tidak semua orang keturunan Cina di Indonesia senang dengan style Ahok. Apalagi Cina muslim yang hidup di Indonesia. Tiba- tiba kehidupan yang rukun dan damai terusik. Sejak Ahok berkuasa membuat suasana berubah menjadi gaduh.
Istriku keturunan Cina yang lahir di Selat Panjang sebuah pulau di tepian alur selat Melaka, Provinsi Riau. Sejak lahir istriku tidak tahu ayah dan ibu kandungnya. Istriku sebut saja Nona diangkat oleh mertuaku M Yunus yang asli suku Melayu Kunto Darusalam, Kabupaten Rokan Hulu. Sedangkan ibu Hj Yati dari Pacitan.
Meski diasuh sejak kecil, Nona tetap bermata sipit. Dan inilah salah satu pertimbangan mengapa saya memilihnya menjadi pasangan setia dalam hidupku. Banyak Cina di Indonesai tetapi yang muslim tidaklah ramai. Kadang saya juga berpikir kenapa Cina yang merantau ke nusantara jarang sekali atau bahkan tidak ada yang muslim.
Padahal kalau membaca sejarah kerajaan Demak dan Majapahit menyebut keberadaan Cina Muslim sudah berperan pada zaman itu. Saya belum mendapatkan literatur sejarah terkait migrasi orang Cina ke Indonesia.
Saking penasaran terhadap Cina Muslim, pada waktu menunaikan ibadah haji secara khusus saya ditemani Jumdan mahasiswa Makkah dari NTB mencari pemondokan Cina muslim. Mereka bermata sipit tetapi wanitanya memakai jilbab berkerudung dan terlihat anggun. Sementara wanita Cina di Indonesia lebih banyak yang memakai busana seksi dan terbuka.
Saya juga sempat bertemu rombongan ibadah haji dari Cina pada tawaf di lintasan 4 dan ketika melihat museum di Makkah. Ini cukup menggambarkan betapa Cina muslim itu banyak jumlahnya.
Gara- gara Ahok yang memicu gerakan demontrasi umat muslim. Menambah kekhawatiran keselamatan anak- anakku. Si sulung Dafiq kini kuliah di Bandung. Si bungsu Bimo memang masih SD dan sekolah di Pekanbaru. Bersyukur putri tercantikku Brillian meski agak sipit tapi tidak seperti Cina.
Biasanya setiap liburan pergi ke Jakarta menunaikan sholat di Masjid Istiqlal. Tapi sejak ramai akan adanya demontrasi saya tidak berani membawa istri dan anakku ke Jakarta.
Entah mengapa kekuatan darimana Ahok berani mengaitkan Alquran pada acara pertemuanya di Pulau Seribu. Padahal andai saja Ahok tidak sembrono, meski dari etnis Cina dan non muslim sebagia orang mendukungnya. Muslim Indonesia sangat toleran dan baik hati. Terkadang kebaikan muslim Indonesia dipandang enteng. Padahal kalau sudah menyangkut aqidah, muslim Indonesia sangat sensitif.
Mengganggu Islam Nyawa dan Harta Benda Taruhannya
Kekuasaan memang suka membuat orang lupa daratan. Menjadi pongah sombong dan syok hebat dan benar sendiri. Tetapi dengan kekuasaan jugalah yang membuat nama seseorang harum - ranum, jika memegangnya dengan santun dan berwibawa, adil serta tak semena- mena.
Padahal kalau mau belajar dari sejarah. Tidak satupun manusia yang langgeng dengan kekuasaannya. Malahan sebaliknya, banyak manusia yang hancur berderai akibat salah memainkan pedang kekuasaan.
Menariknya apa yang telah dilakukan Ahok mendapat tanggapan pro dan kontra muslim Indonesia. Sebagian kelompok tegas menyatakan Ahok salah dan jelas menista agama umat muslim. Sementara golongan lain membelanya. Begitupun media cetak dan elektronik terbelah menjadi dua corong.
Lihatlah betapa membingungkan umat muslim mencerna pendapat Syafii Maarif dah Nusron Wahid yang cenderung membela Ahok. Sedangkan Amien Rais dan Habib Raziq Sidik menegaskan apa yang diucapka Ahok itu jelas menista Islam dan wajib hukumnya Ahok ditangkap dan dihukum.
Persoalan semakin kompleks karena bersamaan dengan proses pilkada Gubernur DKI. Ahok adalah salah satu calon Gubernur yang didukung oleh kekuatan partai politik (parpol) Golkar, PDIP, Hanura dan Nasdem.
Meski dikatakan tidak ada kaitan antara pilkada dah penistaan agama, namun saat ini Ahok dan parpol pendukungnya mati- matian membela untuk kemenangan Ahok. Sementara barisan muslim akhirnya kompak menghadang Ahok.
Soal pilkada jelas ada aturan yang jelas. Begitu tentang penistaan agama juga sudah tegas hukumannya. Maka inilah sejarah Ahok dalam meniti karier politik dan menjalani hidupnya. Silakan Ahok buat apa yang ia suka, tapi saya juga tidak terima jika Islam agamaku dinista.
Gara-gara Ahok aku dan keluargaku dibuat khawatir. Cemas akan terulang lagi sejarah kerusuhan etnis. Sedangkan separuh jiwaku sudah terlanjur mengalir darah cina.
Aku dan keluargaku muslim yang tidak rela Islam Agamaku dinista. Bagiku agamaku bagimu agamamu.
Semoga Jumat 4 November nanti akan menjadi gerakan umat Islam yang berwibawa dan menjadi pelajaran bagi siapa saja untuk tidak mengusik pedang tajam Aqidah umat muslim. Allahu Akbar !
Jakarta, 1 November 2016
Follow News : Riau | Kampar | Siak | Pekanbaru | Inhu | Inhil | Bengkalis | Rohil | Meranti | Dumai | Kuansing | Pelalawan | Rohul | Berita Riau



Popularitas Film Adaptasi Game dan Komik Meningkat, Penonton Global Semakin Antusias
Riaubook.com-Industri film global terus mengalami perkembangan yang signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Salah satu tren yang semakin menonjol adalah meningkatnya…